Tampilkan postingan dengan label Fatwa-Fatwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fatwa-Fatwa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Oktober 2014

Allah Lebih Gembira Dengan Taubat Hambanya

Allah Lebih Gembira Dengan Taubat Hambanya 

 Asy-Syaikh Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya bin Zaid Al-Hajury Az-Za’kariy Hafidzahullah

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد
Allah ta’ala  berfirman :

واني لغفار لمن تاب وآمن وعمل صالحا ثم اهتدى
” Sesungguhnya Aku adalah dzat yang Maha pengampun bagi siapa yang bertaubat, beriman dan beramal shalih kemudian mendapat petunjuk” QS.Thaha

Dan  Allah ta’ala berfirman:
إلا من تاب وآمن وعمل عملا صالحا فأولئك يبدل الله سيائتهم حسنات
“Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal dengan amalan yang shalih maka mereka itu Allah akan gantikan kejelekan kejelekannya dengan kebaikan” QS. Al Furqan.
Bertaubat dari seluruh dosa dan maksiat adalah perkara yang wajib.
Dan taubat apabila telah terpenuhi syarat syaratnya, akan diterima secara menyeluruh baik berupa kekufuran atau selainnya.Dan Alhamdulillah, aku telah membahas syarat-syaratnya pada suatu tulisan tersendiri. Dan diantara keutamaan taubat adalah apa yang telah datang dari hadits:

عن الأَغرِّ بنِ يسارٍ المُزَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : « يَا أَيُهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ ، فَإِنِّي 

أَتُوبُ في الْيَوْمِ مَائَةَ مَرَّةٍ » .أخرجه مسلم


Al Aghor bin Yasaar rahdhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai sekalian manusia?! bertaubatlah kepada Allah dan beristighfar/mohonlah pengampunan kepada Allah! karena sesungguhnya Aku bertaubat kepada  Allah dalam sehari sebanyak 100 kali” HR.Muslim

وَعَنْ أَبي هُرَيرةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : « وَاللهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيهِ في الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً » .أخرجه البخاري

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah sesungguhnya saya beristighfar(memohon ampunan) dan bertaubat keada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali” HR.Al Bukhary

وَعَنْ أَبي حمزةَ أَنس بِنِ مَالِكٍ الأَنْصَارِيِّ خَادِمِ رسولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : « للهُ أَفْرَحُ بِتَوبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلى بَعِيرِهِ وَقَدْ أَضَلَّهُ في أَرْضٍ فَلاةٍ » .متفق عليه

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al Anshary radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ” Sungguh Allah lebih gembira dengan  taubat hambanya, yang mana hamba tersebut  jatuh dari ontanya, dan ia telah kehilangan ontanya pada tanah yang luas” Muttafaqun Alaihi

Dan dalam riwayat Muslim disebutkan:

وَفي روايةٍ لمسلمٍ : « للهُ أَشَدُّ فَرَحَاً بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضٍ فَلاةٍ ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا ، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطجَعَ في ظِلِّهَا وَقَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إَذْ هُوَ بها قَائِمَةً عِنْدَهُ ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ ، اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدي وَأَنَا رَبُّكَ ، أَخْطَاءَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ
 » .
“Sungguh Allah lebih gembira dengan taubat salah seorng dari kalian tatkala ia bertaubat kepadaNya, dibandingkan dengan kegembiraan seseorang yang berada diatas tunggangannya di suatu tanah yang luas, lalu tunggangannya tersebut  lepas, sedangkan makanan dan minumannya pada tunggangannya tersebut. ia pun putus asa untuk mendapatkan ontanya.
Maka ia mendatangi suatu pohon dan berbaring dibawah naungan pohon tersebut dan ia sungguh telah berputus asa.
Ditengah keadaan itu, ternyata ontanya telah ada berdiri didekatnya. Segera iapun mengambil tali ontanya seraya berkata lantaran sangat gembira ( “wahai Allah kamu adalah hambaku dan aku adalah Rabb mu) keliru berucap karena terlalu gembira”


وَعَنْ أَبي مُوسَى عبدِ اللهِ بن قَيسٍ الأَشْعَرِيِّ رَضِيَّ اللهُ عَنْهُ قَالَ : « إِنَّ اللهَ تَعَالى يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسِطُ يَدَهُ في النَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ ، حَتَّى تَطْلِعُ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا » .أخرجه مسلم

Dari Abu Musa Abdullah bin Qais Al Asy ary radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersada:

” Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya dimalam hari untuk memberi taubat kepada pelaku dosa/kesalahan di waktu siang, dan membentangkan tangan-Nya disiang hari untuk memberi taubat kepada pelaku dosa di waktu malam, sampai matahari terbit dari arah barat”HR Muslim
Dan banyak keutamaan lainnya,
Saya memohon kepada  Allah ta’ala agar Ia memberikan rizki taubat nashuha kepada kita, yang  dengannya dosa-dosa kita terampuni serta kekurangan-kekurangan kita tertutupi.
Alhamdulillah

Ditulis oleh Abu Muhammad Al Hajury. 19 Dzulqoedah 1435 H

Alih bahasa : Abu Ubaid Fadli Soroako As-Sulawesiy


NASKAH ASLI :

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد يقول الله تعالى (( واني لغفار لمن تاب وآمن وعمل صالحا ثم اهتدى)) ويقول تعالى (( إلا من تاب وآمن وعمل عملا صالحا فأولئك يبدل الله سيائتهم حسنات)) والتوبة واجبة من جميع الذنوب والمعاصي كما تصح منها كلها اذا توفرت شروطها من الكفر وما دونه وقد تكلمت عن شروطها في مؤلف مستقل بحمد الله تعالى ومن فضائلها ما جاء
عن الأَغرِّ بنِ يسارٍ المُزَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : « يَا أَيُهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ ، فَإِنِّي أَتُوبُ في الْيَوْمِ مَائَةَ مَرَّةٍ » .أخرجه مسلم
وَعَنْ أَبي هُرَيرةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : « وَاللهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيهِ في الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً » .أخرجه البخاري
وَعَنْ أَبي حمزةَ أَنس بِنِ مَالِكٍ الأَنْصَارِيِّ خَادِمِ رسولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : « للهُ أَفْرَحُ بِتَوبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلى بَعِيرِهِ وَقَدْ أَضَلَّهُ في أَرْضٍ فَلاةٍ » .متفق عليه
وَفي روايةٍ لمسلمٍ : « للهُ أَشَدُّ فَرَحَاً بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضٍ فَلاةٍ ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا ، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطجَعَ في ظِلِّهَا وَقَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إَذْ هُوَ بها قَائِمَةً عِنْدَهُ ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ ، اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدي وَأَنَا رَبُّكَ ، أَخْطَاءَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ » .
وَعَنْ أَبي مُوسَى عبدِ اللهِ بن قَيسٍ الأَشْعَرِيِّ رَضِيَّ اللهُ عَنْهُ قَالَ : « إِنَّ اللهَ تَعَالى يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسِطُ يَدَهُ في النَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ ، حَتَّى تَطْلِعُ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا » .أخرجه مسلم
وغيرها كثير فاسأل الله تعالى ان يرزقنا توبة نصوحا يغفر بها ذنوبنا وبستر بها عيوبنا والحمد لله.
أبو محمد الحجوري
١٩/١١/١٤٣٥

Sikap Para Penuntut Imu Terhadap Ahli Ilmi | ATS TSABITTIN

Books Flying Through Nature


Tanya: Apa pendapat antum dengan turunnya Syekhuna Abdurrazzak Al-Badry di markiz-markiz milik kawan-kawan Firanda?, apa beliau salah?. Dan bagaimana dengan tazkiyyah beliau kepada Firanda dan kawan-kawannya?.


Jawab: بسم الله الرحمن الرحيم


Untuk menyatakan bahwa beliau (Asy-Syaikh Abdurrozzaq Hafizhohulloh) adalah salah, maka kami tidak menyatakan hal ini, karena kami tidak memiliki alasan.


Turunnya beliau ke tempat-tempat seperti yang kita ketahui itu sebatas yang beliau kenal, beliau memiliki murid-murid dari Indonesia di Madinah, mereka itu yang beliau kenal, dan tentu ketika mereka memintanya untuk turun ke tempat mereka maka beliau akan penuhi.


Adapun tentang penyimpangan dan penyelisihan yang terjadi pada murid-murid beliau mungkin ketidak tahuan beliau.


Dan apakah orang yang pemberani menyalahkan beliau sudah menyampaikan hujjah dan penjelasan kepada beliau tentang keadaan murid-murid beliau?.


Sungguh masih teringat dengan kedatangan Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy ‘Afallohu ‘anhu di Dammaj, ketika ada tanya jawab, lalu beliau ditanyakan tentang da’wah salafiyyah di Indonesia, beliapun memuji dan kagum terhadap da’wah di Indonesia, kemudian beliau sebutkan beberapa da’i, ternyata para da’i yang beliau sebutkan adalah hizbiyyun, itu karena sepengatahuan beliau kepada mereka, dan secara otomatis beliau telah memberi tazkiyyah kepada mereka sesuai yang beliau dapati dari mereka, berbeda kalau beliau melihat penyimpangan atau mendengarkan langsung, kemudian membiarkan atau bahkan mendukungnya maka harus kita salahkan, sebagaimana keadaan Abdulloh bin Abdirrohim Al-Bukhoriy, mendengarkan fitnah dari Usamah Faishol Mahri kemudian ia tanggapi dengan menambah fitnah yaitu berani berbicara tentang Al-Imam Al-Wadi’iy Rohimahulloh dan mensifatinya dengan sifat khowarij.


Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy ‘Afallohu ‘anhu ketika di Dammaj sempat menyebutkan Ja’far Umar Tholib dengan sebutan jarh (celaan), karena beliau sudah mengetahui kejelekannya, berbeda dengan sebelumnya, beliau masih mengakui Ja’far dan memenuhi undangannya namun ketika Ja’far terjatuh beliaupun tidak lagi menoleh kepadanya.


Adapun kalau masyayikh Ahlissunnah semisal Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy, Asy-Syaikh Abdurrozzaq dan para masyayikh lainnya yang istiqomah di atas As-Sunnah keluar da’wah ke tempat-tempat yang kita ketahui tempat-tempat tersebut milik hizbiyyun atau milik orang masih memiliki perkara muhdats dalam agama, maka jangan tergesa-gesa bagi anda menyalahkan masyayikhnya, akan tetapi hendaknya anda bertanya:


1. Apakah masyayikh itu sudah mengetahui keadaan orang yang mereka turun ke tempatnya?.


2. Apa sebabnya masyayikh itu turun ke tempatnya?.


Dan kita bisa menyalahkan masyayikh tersebut kalau kita sudah menghubungi mereka, kita sebutkan bahwa kita salafiyyun dari murid-murid Darul Hadits Dammaj menginginkan supaya mereka keluar da’wah ke tempat kita, dan jangan ke murid-murid mereka karena hizbiyyun, akan tetapi mereka tetap tidak mau ke tempat kita, malah mereka pergi ke tempat hizbiyyun itu, bila seperti ini keadaan mereka maka perkaranya telah jelas, dan tidak mengapa untuk kita salahkan mereka.

Adapun kalau belum pernah kenalan, belum pernah ada hubungan serta belum pernah memberikan keterangan tentang hizbiyyun lalu kemudian berani menyalahkan para masyayikh yang turun ke tempat hizbiyyun itu maka ini terlalu melampui dalam menyikapi. As’alullaha As-Salamata wal Karomah.


Adapun masalah tazkiyyah maka ini juga sesuai yang mereka ketahui, Umar Ibnul Khoththab Rodhiyallohu ‘anhu memberi tazkiyyah kepada Abdurrohman Muljam dan bahkan beliau mengutusnya keluar da’wah di Mesir, apakah Umar mengetahui apa yang disembunyikan oleh Abdurrohman?, dan apakah Umar mengetahui keadaan tempat da’wah di Mesir?.


Bila kemudian terjadi apa yang terjadi, maka bukanlah Umar Rodhiyallohu ‘anhu yang perlu disalahkan, namun yang disalahkan adalah orang yang menyelisihi da’wah Umar tersebut.


Begitu pula Syaikhuna Yahya Al-Hajuriy ‘Afallohu ‘anhu memberikan tazkiyyah terhadap murid-muridnya sebagaimana dalam “Thobaqot”, ternyata banyak yang menyimpang dan tergelincir, dengan disaksikan langsung oleh Syaikhuna Yahya Al-Hajuriy ‘Afallohu ‘anhu:


رب اشرح لي صدري ويسر لي أمري واحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي


“Wahai Robbku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku dan lepaskanlah kekakuan dari lisanku supaya mereka memahami perkataanku”.


Dijawab oleh:

Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu Di Darul Hadits Sana’a (1 Dzulhijjah 1433).

Minggu, 23 Januari 2011

Fatwa Syaikh Sholih Fauzan tentang Manhaj

Fatwa tentang Manhaj
Syaikh Shalih Fauzan bin Abdullah Fauzan


1. S: Sekarang ini banyak sekali jama'ah (kelompok) dengan beraneka ragam nama, apakah dasar penamaan ini? Bolehkah bergabung dengan mereka jika terbebas dari bid'ah?

J: Rasulullah telah mengabarkan dan menjelaskan apa yang harus kita perbuat, tidak ada satu perkarapun yang bisa mendekatkan ummatnya kepada Allah kecuali telah beliau jelaskan dan tidak ada satu perkarapun yang bisa menjauhkan ummatnya dari Allah kecuali telah beliau jelaskan pula. Di antara masalah yang beliau jelaskan adalah apa yang dipertanyakan sekarang ini.

Rasulullah pernah bersabda: "Sesungguhnya barangsiapa yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak." -apakah obat penyakit ini- beliau bersabda: "Wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin setelahku, peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham kalian, hati-hati kalian dari perkara yang diada-adakan karena semua perkara yang baru adalah bid'ah dan setiap yang bid'ah adalah sesat."

Kelompok yang ada sekarang ini jika sesuai dengan petunjuk Rasulullah dan para shahabatnya khususnya khulafaur rasyidin dan masa yang utama maka kita harus bersama mereka, menisbatkan diri dan beramal dengan mereka. Dan semua kelompok yang menyelisihi petunjuk Rasulullah maka kita harus menjauhinya walaupun mereka menamakan dirinya dengan nama "ahlus sunnah wal jama'ah" karena yang dinilai bukanlah namanya akan tetapi hakikatnya, adapun namanya kadang besar akan tetapi hakikatnya kosong bahkan batil.

Rasulullah bersabda: "Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, Nashara terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan ummatku ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Para shahabat bertanya: "Siapa mereka itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Yaitu orang-orang yang berpegang dengan sunnahku dan sunnah para sahabatku."

Inilah jalan yang sangat jelas... Jamaah (kelompok) yang mempunyai ciri seperti dalam hadits ini harus kita ikuti, yaitu yang berjalan di atas sunnah Rasulullah dan para sahabatnya, "merekalah golongan yang selamat". Adapun jamaah yang menyalahi manhaj (jalan) ini dan berjalan di atas manhaj yang lain bukanlah kelompok kita, dan kitapun tidak termasuk golongan mereka, kita tidak akan menisbatkan diri kepada jamaah tersebut.



2. S: Apa pendapatmu tentang jamaah-jamaah yang ada, sebagai hukum 'Amm (Dasar)?

J: Semua jamaah yang menyelisihi Ahlus sunnah adalah salah, bagi kami tidak ada jamaah kecuali satu yaitu (Ahlus sunnah wal jamaah), maka semua jamaah yang menyelisihi Ahlus sunnah berarti kelompok tersebut menyelisihi manhaj Rasulullah. Kita katakan: "Semua yang menyelisihi Ahlus sunnah adalah ahlul ahwa (ahlul bid'ah) adapun hukumnya dalam kekafiran dan kesesatannya berbeda-beda sesuai dengan besar kecil dan jauh dekatnya perselisihan tersebut.



3. S: Apakah orang yang bergabung dengan kelompok yang ada sekarang ini dianggap sebagai ahlul bid'ah?

J: Sesuai dengan kelompok yang diikutinya... kalau kelompok tersebut menyelisihi Al Qur`an dan As Sunnah maka orang yang bergabung di dalamnya dianggap mubtadi' (ahlul bid'ah).



4. S: Mana yang lebih keras siksanya orang yang berbuat maksiat atau ahlul bid'ah?

J: Mubtadi' lebih keras adzabnya, karena bid'ah lebih berbahaya daripada maksiat, bid'ah lebih dicintai syaithan daripada maksiat, karena orang yang berbuat maksiat kadang bertaubat, adapun mubtadi' jarang sekali kita temukan mereka bertaubat, karena dia menyangka bahwa dirinya di atas kebenaran, berbeda dengan orang yang berbuat maksiat. Adapun mubtadi' dia menyangka kalau dirinya adalah orang yang taat dan tengah berada di atas ketaatan, karena itulah maka bid'ah -wal 'iyadzubillah- lebih jelek dari maksiat, oleh karena itu pula salafus shalih mentahdzir (memperingatkan) dan melarang duduk dengan ahlul bid'ah, karena mereka bisa mempengaruhi teman duduknya dan bahaya mereka sangat besar. Oleh karena itulah tidak diragukan lagi bahwa bid'ah lebih jelek dari maksiat, dan bahaya ahlul bid'ah lebih besar atas manusia daripada bahayanya orang berbuat maksiat.



5. S: Apakah boleh kita bergaul dengan kelompok-kelompok tersebut atau harus mengisolir mereka?

J: Jika tujuan bergaul dengan mereka itu adalah untuk mendakwahi mereka, agar mereka berpegang dengan sunnah serta meninggalkan kebiasaannya yang jelek maka ini diperbolehkan, dan termasuk dakwah ke jalan Allah. Adapun jika tujuan berbaur hanya semata ingin bergaul dan bersahabat tanpa mau mendakwahinya maka ini tidak diperbolehkan... Seseorang tidak boleh berbaur dengan orang-orang yang menyelisihi kecuali dalam bentuk yang ada faidahnya, yakni mendakwahi mereka kepada Islam yang benar dan menerangkan al haq kepada mereka dengan harapan mereka kembali kepada Al Haq.



6. S: Apakah ada jeleknya mentahdzir kelompok yang menyelisihi Ahlus sunnah wal jamaah?

J: Kita mentahdzir mereka, dan kita katakan: "Kami akan melazimi jalannya Ahlus sunnah wal jamaah serta meninggalkan orang-orang yang menyelisihi Ahlus sunnah wal jamaah, baik penyelisihannya sedikit ataupun besar, karena kalau kita menganggap remeh orang yang menyelisihi sunnah, mungkin urusannya akan semakin berkembang dan menjadi besar. Tidak diperbolehkan menyelisihi ahlus sunnah selamanya. Wajib mengikuti jalannya Ahlus sunnah wal jamaah baik dalam masalah besar ataupun kecil.



7. S: Apakah ketika mentahdzir harus menyebutkan kebaikan mereka?

J: Jika engkau sebutkan kebaikan mereka maknanya engkau berdakwah untuk membela mereka, jangan... jangan kau sebutkan kebaikan mereka, sebutkan kesalahan yang mereka lakukan saja, karena engkau tidak dibebani menjaga nama baik mereka, akan tetapi engkau bertanggung jawab menjelaskan kesalahan yang mereka lakukan, dengan harapan mereka bertaubat dari perbuatannya, dan memperingatkan orang lain dari kejahatannya.



8. S: Jamaah Tabligh -sebagai contoh- berkata: "Kami ingin berjalan di atas manhaj Ahlus sunnah wal jamaah", akan tetapi ternyata sebagian mereka melakukan kesalahan, kemudian mereka berkata: "Mengapa kalian menghukumi dan mentahdzir kami?"

J: Telah banyak orang yang pernah ikut pergi bersama mereka dan mempelajari ajaran mereka, kemudian menulis tentang mereka dengan menjelaskan kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam tubuh jamaah tabligh. Kalian harus membaca buku-buku tersebut. Adapun hakikat Jamaah Tabligh banyak ditulis dalam kitab... lihatlah! Nanti kalian akan mengetahuinya, penulisnya adalah orang-orang yang pernah pergi safar dan bergaul dengan mereka, sehingga menulisnya dengan pengetahuan dan di atas kejelasan.



9. S: Apakah kelompok-kelompok yang ada sekarang ini termasuk tujuh puluh dua golongan yang akan masuk neraka?

J: Semua kelompok yang menyelisihi Ahlus sunnah wal jamaah masuk ke dalam tujuh puluh dua golongan, hingga hal ini merupakan celaan dan hukuman sesuai kadar penyelisihan mereka.



10. S: Apakah orang yang menamakan dirinya salafi dianggap hizbiyah?

J: Menamakan diri dengan salafiyah jika secara hakiki tidak mengapa, tapi kalau hanya sekedar akuan semata, tidak boleh dilakukan..., tidak boleh menamakan diri salafiyah kalau tidak berada di atas manhaj salaf. Misalnya Asy'ariyah, mereka berkata: "Kami adalah ahlus sunnah wal jamaah", sebetulnya pernyataan ini tidak boleh diucapkan oleh mereka, karena yang mereka jalani bukanlah manhaj Ahlus sunnah wal jamaah demikian pula halnya firqah-firqah yang lainnya.

Semua orang mengaku sebagai kekasih Laila, padahal Laila tidak menganggap mereka sebagai kekasih.

Orang yang mengaku dirinya Ahlus sunnah wal jamaah akan mencari ahlus sunnah dan meninggalkan orang-orang yang menyelisihi mereka, adapun kalau dia ingin mencampur antara (Dhab dan nun) -begitu perkataan mereka- menggabungkan antara binatang darat dan binatang laut, tidak mungkin bisa dilakukan, atau menggabungkan air dan api dalam satu telapak tangan. Kesimpulannya: wajib membedakan dan membersihkan perkara-perkara di atas.



11. S: Apa pendapatmu terhadap orang yang berkata: Permusuhan kita dengan Yahudi bukan karena agama, karena Al Qur`an menganjurkan untuk berbaris dan berteman dengan mereka?[1]

J: Ini adalah perkataan keliru dan menyesatkan, Yahudi adalah kaum yang kafir, Allah telah mengkafirkan dan melaknat mereka, Rasulullahpun mengkafirkan dan melaknat mereka.

Allah berfirman: "Orang-orang kafir Bani Israil dilaknat..." (Al Maidah: 78). Rasulullah bersabda: "Allah melaknat Yahudi dan Nashara." (HR Bukhari Muslim).

------------------------------------------------------
[1] Ini adalah ucapan Hasan Albanna pendiri Firqah Ikhwanul Muslimin


(Sumber : Al Ajwibah Al Mufidah, edisi Indonesia "Kedudukan As Sunnah dalam Islam dan Penjelasan Sesatnya Ingkarus Sunnah", diterjemahkan oleh Abdurahman Mubarak Ata. Pustaka Al Atsari, cetakan pertama, Juni 1998. Diambil dari http://salafy.iwebland.com/baca.php?id=25)


Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.
Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=715