Tampilkan postingan dengan label Adab-Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab-Akhlak. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Oktober 2014

Hukum Belajar Dengan Ustadz Yang Terusir



Tanya: Bolehkah bagi kami belajar dengan seorang ustadz yang pernah diusir dari markiz tempat belajarnya?, kami belajar kepadanya setelah kami melihat kepadanya di atas As-Sunnah dan giat mengamalkan sunnah.

Jawab: Perlu digaris atasi bahwasanya tidak semua orang yang terusir itu mesti di atas penyimpangan, bahkan terkadang orang diusir karena sebab provokasi atau kebencian dari pihak lain, dan seperti ini sering kita dapatkan, terkadang mereka membuat provokasi: “Yang di Markiz jangan tinggal diam, si fulan itu harus diangkat ke para pengasuh markiz biar…”, yang lainnya lagi mengadu domba dengan berkata: “Si fulan itu harus minta ma’af, dia itu karena sudah terjepit…”, atau membuat-buat sandiwara atas nama menjaga ukhuwah dan kesatuan, yang mengingkari kemudhatsatan dan mengingkari kemungkaran mereka ejek-ejek hingga mereka tidak menyadari telah bersikap semisal sikap Al-Luthiyyah:

Wahai Saudariku Waspadalah Dengan Auratmu



Wahai Saudariku Waspadalah Dengan Auratmu





Tanya: Assalamu’alaikum…afwan mau tanya, apa saja batasan aurat sesama wanita muslimah?. 

(Pertanyaan dari Surabaya).

Jawab: Wa’alaikumussalam Warohmatulloh Wabarokatuh. Para ulama telah berbeda pendapat tentang masalah ini, Abu Zakariya Yahya An-Nawawiy Rohimahulloh menguatkan pendapat bahwa batasan aurat antara wanita dengan wanita adalah seperti laki-laki dengan laki-laki lainnya yaitu dari pusar sampai lutut.

Markiz Kuningan Digugat




Tanya: Apa benar kalau ustadz-ustadz Kuningan tidak menghizbikan hizbul jadid?.

Jawab: Wallohu A’lam, kami tidak mendengarkan dari mereka dan tidak pula kami mendengarkan dari mantan murid-murid mereka yang ada di Darul Hadits ini menyebutkan hal tersebut, melainkan yang kami ketahui dengan adanya sms dari seorang pengasuh ma’had Biarawati yang dia sebarkan hingga sampai ke kami, dan begitulah akhlak jelek orang tersebut, suka membuat provokasi dan sangat bergembira ketika merasa berhasil upayanya, dengan penuh percaya diri dia menyebutkan nama da’i markiz Kuningan “tidak menghizbikan” tokoh hizb jadid, tidaklah dia melakukan perbuatan hina ini melainkan supaya dia mendapat dukungan dalam menyikapi lawan-lawannya, inilah dandanan mereka dari sebelumnya.

Hukum Tinggalnya Wanita Di Selain Rumah Mahramnya



Hukum Tinggalnya Wanita Di Selain Rumah Mahramnya






Tanya: Assalamu’alaikum…, apakah hukum dan dalil-dalil meninggalkan isteri di rumah adik perempuannya dengan adanya suaminya (adik ipar)?.

(Pertanyaan dari Malaysia).

Jawab: Wa’alaikumussalam Warohmatullohi Wabarokatuh. Tinggalnya seseorang wanita di rumah ipar (suami adik atau suami kakak) adalah fitnah dan bahaya, dalilnya adalah hadits ‘Uqbah bin ‘Amir Rodhiyallohu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dan Muslim bahwa Rosululloh ‘Alaihish Sholatu was Salam berkata:

إياكم والدخول على النساء

“Waspadailah kalian dari masuk (bertemu) kepada para wanita”.

Berkata seseorang:

أرأيت الحمو؟

“Apa pendapatmu tentang ipar?”.

Beliau menjawab:

الحمو الموت

“Ipar adalah kematian”.

Syaikhuna Abu Abdirrohman Yahya Al-Hajuriy ‘Afallohu ‘anhu berkata:

والحمو قريب الزوج

“Dan ipar adalah kerabat suami”.

Seseorang jika ingin safar (melakukan perjalanan jauh), jika dia tidak membawa istrinya untuk safar bersamanya maka hendaknya dia membiarkan istrinya di rumahnya bersama anak-anaknya sebagaimana Ibrohim ‘Alaihissalam meninggalkan istrinya Hajar bersama bayinya Isma’il begitu pula Rosululloh ‘Alaihissholatu Wassalam ketika safar beliau meninggalkan istri-istrinya di rumah mereka masing-masing, kecuali kalau seseorang khawatirkan istrinya akan diganggu oleh para tetangga atau orang-orang jahat, maka dia titipkan ke rumah mahromnya, baik ke orang tuanya, atau dititipkan ke saudara-saudara kandungnya atau saudara-saudara susuannya, atau yang semisalnya yang masih termasuk dari mahromnya.

Adapun kalau dititipkan ke selain mahromnya maka akan menimbulkan fitnah dan petaka, sama saja dititipkan ke rumah ipar, ke rumah ustadz atau ke pondok pesantren putri, atau ke selainnya yang bukan tempat mahromnya maka ini akan menimbulkan fitnah, dan akan terkenai pula dengan dalil dari hadits Aisyah Rodhiyallohu ‘anha yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan At-Tirmidziy bahwa Rosululloh ‘Alaihish Sholatu Wassalam berkata:

لا تخلع امرأة ثيابها في غير بيت زوجها -وفي رواية- غير بيتها إلا هتكت الستر بينها وبين الله عز وجل

“Tidaklah seorang wanita menanggalkan pakaiannya di selain rumah suaminya -dalam suatu riwayat- di selain rumahnya melainkan terkoyak penutup antaranya dengan Alloh ‘Azza wa Jalla”.

Telah kami sebutkan di dalam tulisan kami yang berjudul “Tarbiyatun Nisa'” sebuah kisah yang shohih tentang beberapa orang bersaudara yang bertekad untuk pergi jihad, kemudian mereka menitipkan adik prempuan mereka ke salah seorang yang dianggap baik, yang dia rajin beribadah, ketika mereka telah pergi berjihad, orang yang dianggap baik tersebut dibisikan oleh syaithon hingga terfitnah, kemudian dia menzinai wanita tersebut, ketika sudah hamil, orang yang dianggap baik tersebut takut tercemar nama baiknya, syaithonpun akhirnya membisikan kepadanya untuk membunuhnya sehingga kalau saudara-saudaranya ketika kembali dari jihad hanya dikatakan telah meninggal, namun orang yang dianggap baik tersebut ternyata dipermainkan oleh syaithon, yang pada akhirnya dia dihukum mati oleh saudara-saudara wanita yang telah dia perkosa dan yang telah dia bunuh.

Bila kita melihat keadaan para wanita yang dititipkan di pondok putri sering kali mendapatkan perlakuan diluar kewajaran, walaupun mereka tidak seperti keadaan wanita tersebut (diperkosa sampai dibunuh) namun citra dan nama baiknya tercoreng, terkadang gambar yang menampakan kecantikan mereka disebar di HP HP, dingintip-dingintip oleh santri nakal atau bahkan ustadznya sendiri, terjadinya pacaran di balik tirai antara santriwati dengan santri, dan bahkan ustadznya menaruh “cinta” kepada santrinya…., Nas’alullohassalamah wal ‘Afiyah.

Dijawab oleh:

Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu (1 Muharrom 1436).

Jumat, 10 Oktober 2014

Adab-Adab Penukilan Ilmiah

adab-adab penukilan ilmiyyah


Ditulis: Abu Sholeh Mushlih bin Syahid Al-Madiuniy -‘afallohu ‘anhu-

الحمد لله والصلاة على رسول الله وآله وصحبه ومن والاه و من سار على نهجه وخطاه ثم أما بعد

Ketahuilah, bahwa seseorang dalam berkata-kata dan menukil suatu berita atau kalam (ucapan) ilmiah, perlu memperhatikan adab-adab Islami yang berkaitan dengannya. Diharapkan dengan mengilmui dan mengamalkannya, menjadikan kita berada di atas ilmu dan bashiroh baik dalam berbicara maupun beramal.

Beberapa adab penting yang perlu disampaikan di sini adalah sebagai berikut:

Adab pertama:

Ikhlash untuk Alloh ta’ala dan mengharapkan pahalaNya semata ketika berucap dan menukil serta menulisnya. Ini merupakan syarat sahnya suatu ibadah. Jika niatnya rusak, maka rusak pulalah ibadah tersebut. Alloh ta’ala berfirman:

مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ

“Siapa yang menginginkan dengan amalannya ganjaran akhirat, sehingga ia memenuhi hak-hak Alloh dan menginfaqkan dalam dakwah kepada agama, niscaya Kami tambahkan amalan kebaikannya untuknya dan Kami lipat-gandakan pahala kebaikannya tersebut sampai sepuluh kali lipat serta ditambahkan untuknya sesuai kehendak Alloh. Siapa yang menginginkan dengan amalannya itu harta dunia semata, maka Kami berikan kepadanya dari dunia itu sesuai dengan apa yang telah ditentukan untuknya dan tidaklah ada baginya sedikitpun dari ganjaran akhirat.” (Tafsir Muyasar QS. Asy Syuro: 20)

Dari Mahmud bin Labid rodhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر قالوا وما الشرك الأصغر يا رسول الله قال الرياء يقول الله عز وجل إذا جزى الناس بأعمالهم اذهبوا إلى الذين كنتم تراؤون في الدنيا فانظروا هل تجدون عندهم جزاء

“Sesungguhnya perkara yang paling kukhawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya: “Apa syirik kecil itu, wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Riya’. Alloh ‘azza wa jalla berfirman ketika membalas amalan mereka: “Pergilah kalian kepada siapa yang kalian tampakkan amalan itu untuknya di dunia. Lalu lihatlah, apa kalian dapatkan ganjaran itu dari mereka?!” (HR. Ahmad dan selainnya, dishohihkan Imam Al Albaniy rohimahulloh dalam Ash-Shohihah, no. 951)

Dari Abu Sa’id bin Abi Fadholah rodhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا جمع الله الأولين والآخرين ليوم القيامة ليوم لا ريب فيه نادى مناد من كان أشرك في عمله لله أحدا فليطلب ثوابه من عنده فإن الله أغنى الشركاء عن الشرك

“Jika Alloh telah mengumpulkan hamba-Nya dari awal sampai akhir zaman pada hari kiamat di suatu hari yang tiada keraguan padanya, maka diserukan kepada mereka: “Siapa yang melakukan kesyirikan menyekutukan Alloh dengan siapapun dalam amalannya, maka mintalah ganjarannya darinya! Sesungguhnya Alloh paling tidak butuh terhadap kesyirikannya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan selainnya, dihasankan oleh Al Albaniy rohimahulloh dalam Shohih At-Targhib, no. 33)

Maka hendaklah tujuan kita dalam berucap, menukil dan menulis itu adalah Alloh subhanahu wa ta’ala semata. Niat ikhlash tersebut adalah suatu jalan yang mengantarkan kita untuk mendapatkan pertolongan Alloh ‘azza wa jalla.

Dari Sa’d bin Abi Waqqosh rodhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنما ينصر الله هذه الأمة بضعيفها بدعوتهم وصلاتهم وإخلاصهم

“Alloh hanyalah menolong umat ini lantaran adanya orang-orang lemah di antara mereka dengan doa-doa, sholat dan keikhlasan mereka.” (HR. An Nasa’i dan selainnya, dishohihkan oleh Al Albaniy rohimahulloh dalam Shohih At Targhib wat Tarhib, no. 6)

Adab kedua:

Berupaya untuk menukilkan suatu berita atau ucapan yang mengandung kebaikan di dalamnya serta berfaedah dan menjauhi hal-hal yang mengandung kejelekan, kemudhorotan dan tidak bermanfaat. Ingatlah sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:

من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها و أجر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيء و من سن في الإسلام سنة سيئة فعليه وزرها و وزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيء

“Siapa yang mengadakan suatu kebaikan dalam Islam, maka baginya pahala amalan tersebut dan pahala orang yang ikut mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Siapa yang mengadakan amalan kejelekan dalam Islam, maka ia akan tertimpa dosanya dan dosa orang yang ikut melakukannya setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim dari Jarir rodhiyallohu ‘anhu)

Maka seorang muslim yang baik itu tidaklah mengamalkan sesuatu, kecuali kebaikan. Tidak menukilkan sesuatu, kecuali mengandung kebaikan dan menghindarkan diri dari kejelekan.

Adab ketiga:

Hendaknya tidak menukilkan, melainkan sesuatu yang telah diteliti dan dicek kebenarannya dari sumbernya. Tidak menukilkan suatu kedustaan dan perkara yang diada-adakan, karena ini akan mendatangkan kejelekan dan permusuhan serta penyesalan di kemudian hari. Alloh ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang membenarkan Alloh dan Rosul-Nya serta mengamalkan syariatnya, jika telah datang kepada kalian seorang fasik dengan membawa berita, maka telitilah kebenaran beritanya (tatsabbut) terlebih dahulu sebelum kalian benarkan dan nukilkan. Dikhawatirkan akan menimpa suatu kaum yang tidak berdosa lantaran keteledoran dan kelengahan kalian, sehingga kalian menyesal karenanya.” (Tafsir Muyassar QS. Al-Hujurot: 6)

Adab keempat:

Amanah dalam penukilan berita atau ucapan ilmiah, yaitu dengan menyandarkan suatu berita atau ucapan (kalam) kepada sumbernya yang asli. Siapa yang menukilkan sesuatu dari orang lain, kemudian menyandarkan hal itu kepada dirinya sendiri dan tidak mengembalikan kepada sumbernya yang asli, maka ini adalah suatu kesalahan dalam syariat.

Jika ia bersengaja berbuat demikian, maka dikhawatirkan dirinya akan terjatuh kepada perbuatan riya’ dan kemunafikan, wal ‘iyaadhu billaah. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

لا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنْ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa orang-orang yang merasa bangga dengan perbuatan-perbuatan kejelekan yang mereka lakukan, seperti orang-orang Yahudi dan munafik serta selain mereka dan merasa senang dan ingin dipuji oleh manusia dengan apa-apa yang tidak mereka lakukan. Janganlah kalian mengira bahwa mereka akan selamat dari adzab Alloh di dunia. Sedangkan di akherat nanti, mereka akan tertimpa adzab yang pedih.” (QS. Ali Imron: 188)

Ayat ini mengandung ancaman yang keras bagi siapa yang melakukan perbuatan kejelekan dan merasa senang dengannya dan ancaman bagi setiap yang membanggakan diri terhadap apa yang tidak dilakukannya agar mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. (Tafsir Muyassar QS. Ali Imron: 188)

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda berkaitan dengan ayat di atas:

مَن ادَّعَى دَعْوى كاذبة لِيتَكَثَّر بها؛ لم يَزِدْه اللهُ إلا قِلَّةً

“Siapa yang mengaku suatu pengakuan dusta untuk memperkaya dan memperbanyak diri, maka tidaklah Alloh ta’ala akan menambahkan kepadanya melainkan kekurangan dan kesedikitan.” (HR. Muslim dari hadits Tsabit bin Dhohhak rodhiyallohu ‘anhu)

Termasuk dalam pengakuan dusta di sini adalah mengaku atau menampakkan dirinya mempunyai suatu ilmu, padahal ia tidak memilikinya, akan tetapi hanyalah mengambilnya dari orang lain. (lihat Ikmalul Mu’lim: 1/391, karya Qodhi ‘Iyyadh rohimahulloh)

Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

المتشبع بما لم يُعْطَ كلابس ثَوْبَي زُور

“Orang yang menampakkan dirinya mempunyai keutamaan, padahal tidaklah demikian, maka ia bagaikan pemakai dua baju kebohongan.” (HR. Bukhori dan Muslim dari hadits Asma’ binti Abi Bakr rodhiyallohu ‘anha)

Imam Al-Albaniy rohimahulloh, suatu ketika ditanya mengenai hal ini (Kamis, 28 Jumadal Akhiroh 1428H), yaitu ketika marak pada sebagian orang berupa penukilan kalam ulama tanpa menyandarkannya kepada mereka. Apakah hal ini termasuk pencurian karya ilmiah ataukah tidak? Beliau rohimahulloh menjawab:

نعم هو سرقة، ولا يجوز شرعاً، لأنه تشبّع بما لم يعط، وفيه تدليس وإيهام أن هذا الكلام أو التحقيق من كيسه وعلمه

“Ya, itu adalah pencurian dan tidak boleh secara syariat, karena itu termasuk menampakkan dirinya telah mempunyai sesuatu yang tidak diberikan atau tidak ada pada dirinya. Pada hal itu terdapat tadlis (pengkaburan) dan penyamaran bahwa suatu kalam (perkataan) atau tahqiq masalah tersebut berasal dari kantong dan ilmunya sendiri.”

Si penanya berkata: “Wahai Syaikh kami, sebagian mereka berdalih dengan apa yang dilakukan oleh para ulama dahulu.”

Beliau rohimahulloh menjawab:

هل يفخرون بذلك ؟ لا ينبغي لطالب العلم أن يفخر بذلك، واعلم يا أستاذ أن المنقول هو أحد أمرين : فمن نقل كلاماً لا يشك أحد رآه أنه ليس من كلامه؛ كمثل ما أقوله أنا وغيري (إن فلاناً ضعيف أو ثقة)، فكل من يقرأ هذا يعلم أن هذا ليس كلامي، فهذا يغتفر، أما ما فيه بحث وتحقيق فلا يجوز أيًّا كان فاعله

“Apakah mereka merasa bangga dengan hal itu?! Tidak selayaknya seorang tholibul ilmi membanggakan hal itu.

Ketahuilah -wahai Ustadz-, bahwasanya sesuatu yang ternukil itu ada dua macam:

(Pertama), siapa yang menukil suatu kalam yang tidak ragu lagi bagi siapapun bahwa itu bukan dari kalamnya, seperti apa yang kuucapkan dan selainku juga mengucapkannya (tentang keadaan seorang perowi hadits): “Sesungguhnya si fulan itu dho’if (lemah haditsnya) atau tsiqoh (terpercaya haditsnya)…” Setiap orang yang membacanya pasti mengetahui bahwa itu bukan dari kalamku (tetapi kalam ulama hadits terdahulu). Maka ini tidak apa-apa dimaafkan.

(Kedua), adapun apa yang di dalamnya terdapat pembahasan ilmiah dan tahqiq (penentuan hukum) suatu masalah, maka hal itu tidak diperbolehkan siapapun pelakunya.” (lihat Al-Albaniy Kama ‘Arofta, hal. 74, oleh ‘Ishom Hadiy)

Maka jadilah seorang yang bersifat amanah, tidak melakukan pencurian suatu ucapan, berita atau karya tulis dan mengadakan pengkaburan (talbis) terhadap manusia seakan-akan dialah pemiliknya yang asli, padahal itu adalah karya saudaranya atau hasil jerih payah orang lain.

Imam Syu’bah bin Al-Hajjaj rohimahulloh berkata:

لأن أزني أحب إلي من أن أدلس ولأن أشرب من بول حمار حتى أروي ظمأي أحب إلي من أدلس والتدليس أخو الكذب

“Sungguh, sekiranya aku melakukan zina itu lebih baik daripada berbuat tadlis (pengkaburan). Sekiranya aku meminum kencing keledai sampai hilang rasa hausku itu lebih baik daripada berbuat tadlis. Perbuatan tadlis (pengkaburan) itu adalah saudaranya kedustaan.”

Perbuatan tadlis (pengkaburan) ini sangat banyak ditemui di media-media sosial dan selainnya -baik di dunia maya (internet) maupun nyata-, tidak terhitung jumlahnya. Tidak hanya menghilangkan atau tidak menyebutkan nama penulisnya yang asli atau hanya sekedar membubuhkan kata “nukilan” di akhir tulisan saja, bahkan sampai pada perbuatan mengubah-ubah ucapan atau redaksinya dan menggantinya sesuai dengan kehendaknya sendiri dan menyandarkannya kepada penulisnya yang asli sesuatu yang bukan darinya tanpa adanya pemberitahuan ataupun peringatan akan hal itu.

Maka hendaklah kita bertaqwa (takut) kepada Alloh ta’ala dan berlaku amanah dalam menukil, dengan menyebutkan penulis dan sumber aslinya tanpa merubah-rubah redaksinya. Jika telah terjadi perubahan, maka hendaknya diberitahukan dan diberikan keterangan akan hal tersebut sehingga menjadi jelas adanya. Ini adalah termasuk suatu kehormatan diri, kejujuran dan nasehat yang berharga, rasa syukur yang nyata serta membuahkan barokah ilmu yang tiada tara…

Para ulama mengatakan:

إن مِن بركة العلم أن تضيف الشيء إلى قائله

“Sungguh merupakan barokah ilmu itu adalah dengan menyandarkan suatu ucapan kepada pemiliknya.” (lihat Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih: 2/89, karya Ibnu Abdil Barr rohimahulloh)

Imam Al-Albaniy rohimahulloh mengatakan tentang ucapan para ulama ini:

لأن في ذلك ترفُّعًا عن التزوير الذي أشار إليه النبيُّ صلى الله عليه وسلم في قوله (الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ)، متفق عليه اهـ

“Karena hal itu -yaitu menyandarkan suatu perkataan kepada pemiliknya- untuk melepaskan diri dari kedustaan yang telah diisyaratkan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau: “Orang yang menampakkan dirinya mempunyai keutamaan padahal tidaklah demikian, maka ia bagaikan pemakai dua baju kebohongan.” Muttafaqun ‘alaih.” (lihat muqoddimah Al-Kalimut-Thoyyib, hal. 12)

Imam An-Nawawi rohimahulloh menyebutkan tentang makna hadits: “Agama itu nasehat,” dengan mengatakan:

ومِن النصيحة: أن تضاف الفائدةُ التي تُستغرَبُ إلى قائلها، فمَن فعل ذلك؛ بورك له في عِلْمِه وحالِه، ومَن أَوْهَم ذلك وأوهم فيما يأخذه مِن كلام غيره أنه له؛ فهو جديرٌ أن لا يُنتفَع بعِلمِه، ولا يُبارَك له في حال، ولم يَزل أهلُ العلم والفضل على إضافةِ الفوائد إلى قائلها، نسأل الله تعالى التوفيق لذلك دائمًا اهـ

“Termasuk nasehat itu adalah menyandarkan suatu faedah yang menarik kepada pemiliknya (pengucapnya). Siapa yang melakukan hal itu, maka akan dibarokahi ilmu dan keadaan dirinya. Siapa yang mengaburkan hal itu atau mengaburkan suatu kalam (ucapan) orang lain yang ia ambil seakan-akan miliknya sendiri, maka ia lebih pantas untuk tidak diambil ilmunya dan tidak dibarokahi keadaan dirinya. Para ahli ilmu dan pemilik keutamaan senantiasa menyandarkan faedah-faedah kepada pengucapnya (pemiliknya). Kami memohon kepada Alloh ta’ala taufiq selama-lamanya dalam perkara tersebut.” (lihat Bustanul ‘Arifin, hal. 15-16, karya Imam Nawawi, cet. Darur-Royyan)

Ingatlah hadits Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam:

نضر الله امرأ سمع منا شيئا فبلغه كما سمعه فرب مبلغ أوعى من سامع

“Alloh ta’ala membaguskan akhlak dan mengangkat derajat seseorang yang mendengar dari sesuatu kami, lalu ia menyampaikannya sesuai dengan apa yang ia dengar (tidak merubah-rubahnya). Berapa banyak orang yang disampaikan sesuatu kepadanya itu lebih mengerti dan memahami daripada yang mendengarnya langsung.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan selainnya, dishohihkan oleh Al-Albaniy rohimahulloh)

Imam Abu ‘Ubaid Al-Qoshim bin Salam rohimahulloh mengatakan:

إنَّ مِنْ شُكْرِ الْعِلْمَ أَنْ يَجْلِسَ مَعَ رَجُلٍ فَيُذَاكِرَهُ بِشَيْءٍ لَا يَعْرِفُهُ ، فَيَذْكُرَ لَهُ الْحَرْفَ عِنْدَ ذَلِكَ، فَيَذْكُرَ ذَلِكَ الْحَرْفَ الَّذِي سَمِع مِنْ ذَلِكَ الرَّجُلِ ، فَيَقُولَ: مَا كَانَ عِنْدِي مِنْ هَذَا شَيْءٌ حَتَّى سَمِعْتُ فُلَانًا يَقُولُ فِيهِ كَذَا وَكَذَا
فَإِذَا فَعَلْت ذَلِكَ فَقَدْ شَكَرْت الْعِلْمَ، وَلَا تُوهِمْهُمْ أَنَّك قُلْت هَذَا مِنْ نَفْسِك اهـ

“Sungguh, termasuk syukur ilmu (mensyukuri ilmu) itu adalah ia duduk bersama seseorang. Lalu orang itu menyebutkan sesuatu (ilmu) yang belum diketahuinya dan ia menyebutkannya secara huruf-perhuruf di sisi orang tersebut. Kemudian suatu ketika ia menyebutkan faedah itu sesuai dengan apa yang ia dengar dari orang itu dan mengatakan: “Tidaklah aku mempunyai faedah ini sedikitpun, hingga aku mendengar si fulan mengatakannya demikian dan demikian.” Jika engkau melakukan yang demikian, maka sungguh engkau telah mensyukuri ilmu dan tidak mengaburkannya kepada mereka bahwa engkau mengatakannya dari dirimu sendiri.” (lihat Al-Adab Asy-Syar’iyyah: 2/170, karya Ibnu Muflih, cet. ‘Alamul Kutub)

Imam Abul Qoshim Al-Wazir Al-Maghribiy rohimahulloh mengatakan:

فرأينا أنّ الإغماض عن ذِكرِ مَن استفدناها منه خللٌ في المروءة، وشعبةٌ مِن كُفرِ النعمة، وغمطٌ لإحسانٍ لسنا أغنياء عن أمثاله، ولا مكتفين دون ما نستأنف مِن أشكاله

“Maka kami melihat bahwa memejamkan mata dari menyebutkan siapa yang telah kami ambil faedah darinya merupakan kekurangan dan kecacatan dalam keluhuran budi, kewibawaan dan kehormatan diri. Juga termasuk bagian dari kufur nikmat dan membuta dari kebaikan yang tidaklah kita merasa cukup darinya tanpa mengawalinya dari hal-hal seperti itu.” (lihat Adabul Khowash, hal. 85, karya Al-Husain bin ‘Ali Al-Maghribiy, cet. Darul Yamamah-Riyadh)

Inilah beberapa adab penting yang berkaitan dengan penukilan ilmiah, wallohu ta’ala a’lam bish showab. Semoga Alloh ta’ala memberikan taufiqNya kepada kita semua kepada jalan yang diridhoi-Nya dan menjauhkan kita dari jalan-jalan yang dimurkai-Nya. Wallohul muwaffiq lish showab, wal hamdulillah robbil ‘alamin.

Disarikan dari: risalah Adab fii Naqlil Mawadhi’, oleh Abu Hamzah Al-Ghorib Al-Mizziy; risalah Ilaa Man Yaquulu: “Manquul!”, oleh Sukainah binti Al-Albaniy rohimahalloh; risalah Ihdzar Ya Tholibal ‘Ilmi Min As-Sariqotil-‘Ilmiyyah!, oleh Abu Mu’awiyah Al-Bairutiy.

Sumber: Muntadayat Maktabah Masjid Nabawiy Asy-Syarif;
 http://www.mktaba.org/vb/showthread.php?t=15048 Tamamul Minnah Mudawwanah Sukainah binti Al-Albaniy; http://tamammennah.blogspot.com/2009/07/blog-post.html

Ditulis: Abu Sholeh Mushlih bin Syahid Al-Madiuniy -‘afallohu ‘anhu-

(Selasa, 2 Syawwal 1435H – Markaz Darul Hadits As-Salafiyyah, Baihan – Shon’a)

Kecerdasan Yang Membawa Kesan





Tanya: Apa pendapatmu tentang kampung Kisar yang diduduki oleh para Hizbiyyun Luqmaniyyun? Apakah pantas bagi mereka untuk tinggal di sana?.

Jawab: بسم الله الرحمن الرحيم

Harom bagi mereka untuk tinggal di sana, mereka telah terjatuh kedalam kesalahan yang mereka menyadarinya ataupun tidak.

Itu semua disebabkan karena kecerdasan para da’i Luqmaniyyin yang membawa kepada kesan buruk dan jelek, karena mereka merasa sebagai laskar jihad dan berhasil menguasai tanah itu, seakan-akan tanah itu sebagai ghonimah untuk mereka.

Mereka sudah tahu kalau tanah itu bukan milik mereka dan bahkan dulu mereka sudah tahu bahwa tanah itu termasuk tanah masih dalam persengketaan namun lancang memperjual belikannya, yang hasilnya untuk yayasan Abu Bakr Ash-Shiddiq mereka, hasilnya untuk gaji para da’i mereka dan untuk pengkaderan para da’i hizbiyyah.

Ini kelancangan dan melakukan proses jual beli yang bahan diperjual belikan bukan milik mereka, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ولا بيع ما ليس عندك

“Tidak (halal) jual beli terhadap apa-apa yang tidak ada padamu”.

Tanah milik orang diperjual belikan, maka jual beli seperti ini adalah batil, ini bentuk penipuan, jual beli makanan yang murahan saja kalau sudah ada unsur penipuan sudah terlarang lalu bagaimana kiranya dengan barang mahal semisal tanah luas seperti di kampung Kisar Ambon itu?, apalagi jual beli atas nama da’wah lagi?!, Rosululloh ‘Alaihisholatu Wassalam ketika melihat seseorang menjual makanan dengan menyembunyikan kerusakan pada makanannya maka beliau berkata:

ما هذا يا صاحب الطعام؟

“Apa ini wahai pemilik makanan?”.
Pemilik makanan tadi menjawab:

أصابته السماء يا رسول الله

“Terkena air hujan wahai Rosululloh”.
Maka Rosululloh ‘Alaihissholatu Wassalam berkata:

أفلا جعلته فوق الطعام كي يراه الناس؟ من غش فليس مني

“Mengapa kamu tidak meletakannya di atas makanan supaya manusia melihatnya?! barang siapa menipu maka dia bukan termasuk dariku”.

Ini yang jual makanannya dia sendiri namun karena ada penipuan di dalamnya jual belinya pun batil, maka bagaimana dengan memperjual belikan tanah milik orang?, menipu lagi?, atas nama da’wah lagi?.

Dengan itu, pemilik tanah berhak untuk mengambil tanahnya.

Sudah seperti itu keadaan mereka, duduk dan terus meni’mati hidup di atas tanah yang harom bagi mereka, masih juga mereka terus berbuat galak dan jahat, bahkan berani mengancam untuk mengusir Ahlissunnah dari kampung Kisar.

Barangkali itu sudah hasilnya dari memanfaatkan perkara-perkara harom, tinggal di tempat yang harom, memakan makanan dari hasil minta-minta, menerima gaji bulanan dari yayasan mereka yang mendapatkan dana-dana dari hasil yang batil seperti itu, maka tidak heran sekarang mereka bertambah buta, yang harom dianggap halal, perbuatan teror dianggap jihad:

فإنها لا تعمى الأبصار ولكن تعمى القلوب التي في الصدور

“Maka sesungguhnya tidaklah buta penglihatan (mata kepala) akan tetapi yang buta adalah (mata) hati yang ada di dalam dada”.

Dijawab oleh: Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy.

Minum Sambil Berdiri ?



Kecerdasan Yang Membawa Kesan

-٧٦٧ وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال : سَقَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم مِنْ زَمْزَمَ، فَشَرِبَ وَهُوَقَائمٌ. متفقٌ عليه

767 – Ibn ‘Abbas رضي الله عنهما a dit : Une fois, j’ai versé de l’eau de Zemzem au Prophète صلى الله عليه وسلم qui le but debout. Hadith ayant reçu l’unanimité

767 – Dari Ibn ‘Abbas رضي الله عنهما, dia berkata : “Saya memberi minum Nabi صلى الله عليه وسلم dari air zam-zam, maka beliau minum sambil berdiri.” (HR. Bukhari-Muslim)

٧٦٨ – وعن النَزَّال بنِ سبْرَةَ رضيَ اللهُ عنه قال : أَتَى عَلِيٌّ رضيَ اللهُ عنهُ باب الرَّحْبَةِ فَشَرِب قَائمًا، وقالَ : إِنِّى رَأَيْتُ رَسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فعل كما رَأَيْتُمُونى فَعَلْتُ، رواه البخارى

768 – Al-Nazzâl Ibn Sabra رضي الله عنه rapporte qu’une fois ‘Ali رضي الله عنه se présenta à la porte “Ar-Rahba” et se désaltéra debout en disant : J’ai vu le Messager d’Allah صلى الله عليه وسلم faire ce que vous venez de me voir faire, Hadith rapporté par Boukhâri

787 – Dari Al-Nazzal ibn Sabrah رضي الله عنه, dia berkata: “Ali رضي الله عنهmendatangi pintu Rabhah (halaman masjid Kufah) lalu minum sambil berdiri, lalu berkata : “Sesungguhnya saya melihat Rasulullah صلى الله عليه وسلم melakukan sebagaimana kalian melihatku melakukannya.” (HR. Bukhari)

٧٦٨ – وعن ابن عمر رضيَ الله عنهما قال : كنَّا نَأْكُلُ عَلى عَهدِ رسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ونحْنُ نَمْشى، ونَشْرَبُ وَنحْنُ قيامٌ. رواهُ الترمذي، وقال : حديث حسن صحيح

769 – Ibn ‘Omar رضي الله عنهما rapporte ceci : Au temps du Prophète صلى الله عليه وسلم nous mangions en marchant et nous buvions tout en étant debout. Rapporté par Tirmidhi et il a dit : Hadith bon et authentique

769 – Dari Ibn Umar رضي الله عنهما, dia berkata : “Kami pada masa Rasulullah صلى الله عليه وسلم makan sambil berjalan dan minum sambil berdiri.” (HR. Tirmidzi, dia berkata “Hadits Hasan Shahih”)

٧٧٠ – وعن عمرو بن شعيب عن أَبيهِ عن جدِّه رضي اللهُ عنه قال : رَأَيْتُ رسُول اللهِ صلى الله عليه وسلم يشربُ قَائمًا وقَاعِدًا. رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح

770 – ‘Amr Ibn Chou’aib tient de son père et de son grand-père رضي الله عنه ceci : J’ai vu le Prophète صلى الله عليه وسلم boire aussi bien debout qu’assis. Rapporté par Tirmidhi et il a dit : Hadith bon et authentique

770 – Dari Amr Ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya رضي الله عنه dia berkata : “Saya melihat Rasulullah صلى الله عليه وسلم minum sambil berdiri dan sambil duduk.” (HR. Tirmidzi, dia berkata: “Hadits Hasan Shahih”)

كتبه أبو سعيد محمد بن عبد الله الجزائري الفرنسي

Ditulis Oleh: Abu Said Muhammad Djebli ibn Abdullah Al-Jazairiy Al-Faransiy

Diterjemahkan Oleh redaksi ashhabulhadits dengan merujuk kitab terjemahan dan kamus Al-Munawwir Sumber :  كتاب : رياض الصالحين / ١١٤ – باب بيان جواز الشرب قائِما وبيان أن الأكمل والأفضل الشرب قاعدً

Keutamaan Ahli Al-Qur’an



بسم الله الرحمن الرحيم



Termasuk karunia dari Alloh Ta’ala kepada umat Islam dengan dimunculkannya para da’i yang memiliki kemampuan untuk menda’wahkan Al-Qur’an, baik dengan membacanya ketika mengimami kaum muslimin dalam sholat berjama’ah atau ketika mengajarkannya dengan membaca kitab-kitab tafsir atau tajwid.

Barang siapa yang terkumpul amalan mulia ini maka sungguh dia telah terkumpul kebaikan dan keutamaan, sungguh benar perkataan Rosululloh ‘Alaihissholatu Wassalam:

خيركم من تعلم القرآن وعلمه

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”. Dalam satu riwayat di dalam “Shohihul Bukhoriy” dengan lafazh:

أفضلكم من تعلم القرآن وعلمه

“Paling utama kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”.

Diantara para da’i yang perhatian terhadap Al-Qur’an ini, baik dengan membaca, mengamalkan, mengajarkan dan menda’wahkannya adalah Syaikhuna Abu Muhammad ‘Abdul Baasith bin Zaayid bin Ali Umar ‘Afallohu ‘anhu.

Beliau adalah salah satu pengasuh markiz As-Sunnah Madinah Sakaniyyah Sa’awan Sana’a, markiz ini didirikan oleh Syaikhuna Abu Ibrohim Muhammad bin Maani’ Al-Ansiy dan Syaikhuna Abdul Baasith selaku pengasuh, beliau juga termasuk menantu Syaikhuna Muhammad Maani’ ‘Afallohu ‘anhu.

Ketika terjadi perang Dammaj, Syaikhuna Abdul Baasith termasuk yang paling terdepan menyerukan jihad fii Sabilillah membela saudara-saudarinya yang ada di bumi Dammaj, ketika saudara-saudarinya hijroh dari Dammaj menuju markiz yang beliau asuh, ketika itu beliau tidak ada di markiz, karena beliau masih di Hasyid berjihad melawan kaum kafir Rofidhoh, Akhunaa Abu Abdillah Nashr Al-Jazairiy ‘Afallohu ‘anhu berkata:

“Tidak saya dapati para masyayikh yang paling pemberani dari pada Asy-Syaikh Abdul Baasith, setiap saya bergegas maju ke pasukan paling terdepan mesti saya dapati beliau, ternyata beliau termasuk dari para penghujum (penyerang) ke pertahanan musuh”.

Pada awalnya ada dari mujahidin tidak mengira kalau beliau adalah termasuk dari ‘ulama namun ketika mendengarkan pengajarannya, diapun kagum, ketika Syaikhuna ‘Abdul Baasith bersama para mujahidin keluar meninggalkan medan jihad di Hasyid dan menuju Sa’awan maka para muhajirin yang sudah berada di markiz As-Sunnah sangat berbahagia, lebih-lebih ketika menyaksikan pengajaran-pengajaran dan ceramah-ceramah beliau, Masya Alloh.

Disampaikan oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu.

Dengarkan !

Bersinar Mukanya Karena Berwudhu





١٠٢٤ – وعَن أَبي هُريْرَةَ رضيَ الله عَنْه قال: سمِعْت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يقُول: « إِنَّ أُمَّتي يُدْعَوْنَ يَوْمَ القِيامَةِ غُرًّا محَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الوضوءِ فَمنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيل غُرَّتَه، فَليفعلْ » متفقٌ عليه

1024 – Abou Houraïra رضيَ الله عَنْه rapporte ce qui suit : j’ai entendu le Messager d’Allah صلى الله عليه وسلم dire : « Certes, au jour de la résurrection, les gens de ma communauté se reconnaîtront parés d’une lumière émanant des parties (de leur corps) touchées par les ablutions. Aussi, celui parmi vous qui aspire à ce que ses membres soient lumineux qu’il fasse ses ablutions ». Hadith ayant reçu l’unanimité

1024 – Dari Abu Hurairah رضيَ الله عَنْه dia berkata: “Saya mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: Sesungguhnya umatku dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan bersinar muka, tangan kakinya karena pengaruh wudhu. Maka barang siapa diantara kamu mampu memperpanjang sinarnya hendaklah ia melakukannya. (HR. Bukhari – Muslim)

١٠٢٥ – وعنه قَالَ: سَمِعْت خَلِيلي صلى الله عليه وسلم يقُول: « تَبْلُغُ الحِلية مِنَ المؤمِن حَيْث يبْلُغُ الوضوءُ » رواه مسلم

1025 – Et il dit aussi : j’ai entendu mon bien-aimé صلى الله عليه وسلم dire : « La parure du croyant sera à la mesure de ses membres qui auront été touchés par les ablutions ». Hadith rapporté par Mouslim

1025 – Dan dari Abu Hurairah رضيَ الله عَنْه, dia berkata: “Saya mendengar kekasihku (Rasulullah صلى الله عليه وسلم “Perhiasan orang mukmin (di surga) akan sampai pada tempat-tempat yang dibasahi oleh air wudhu.” (HR. Muslim)

١٠٢٦ – وعن عثمانَ بن عفانَ رضي الله عنه قال: قال رسولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: « منْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الوضوءَ، خَرَجَت خَطَايَاهُ مِنْ جسَدِهِ حتَّى تَخْرُجَ مِنْ تحتِ أَظفارِهِ » رواه مسلم

1026 – ‘Othman Ibn ‘Affane رضي الله عنه rapporte que le Messager d’Allah صلى الله عليه وسلم a dit : « Quiconque fait ses ablutions convenablement, verra ses péchés quitter son corps et sortir par ses ongles ». Hadith rapporté par Mouslim

1026 – Dari Utsman ibn Affan رضي الله عنه, dia berkata: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Barangsiapa wudhu lalu membaguskan wudhunya maka kesalahan-kesalahannya keluar dari jasadnya hingga keluar dari bawah kukunya.” (HR. Muslim)

١٠٢٨ – وعن أبي هريرةَ رضي الله عنه أَنَّ رسولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال: « إِذا تَوَضَّأَ العبدُ المُسلِم أَوِ المؤْمِنُ فَغَسل وجهَهُ خَرجَ مِنْ وَجهِهِ كلُّ خطِيئَة نَظَر إِلَيْهَا بِعيْنيْهِ مع الماءِ أَوْ معَ آخرِ قَطْرِ الماءِ، فَإِذا غَسلَ يديهِ، خَرج مِنْ يديهِ كُلُّ خَطيئَةٍ كانَ بطَشَتْهَا يداهُ مَعَ المَاءِ أَوْ مع آخِر قَطْرِ الماءِ، فَإِذا غَسلَ رِجَليْهِ، خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتها رِجلاه مع الماءِ أَوْ مَع آخرِ قَطرِ الماءِ، حتى يخرُجَ نَقِيًّا مِن الذُّنُوبِ » رواه مسلم

1028 – Abou Houraïra رضي الله عنه rapporte que le Messager d’Allah صلى الله عليه وسلم a dit : « Lorsque l’esclave muslim (musulman) – ou croyant – fait ses ablutions et se lave le visage, les péchés qu’il a commis avec ses yeux, s’en vont avec l’eau qui le lave, ou avec la dernière goutte d’eau ; lorsqu’il se lave les bras, les péchés qu’il a commis avec ses mains, s’en vont avec l’eau qui le lave, ou avec la dernière goutte d’eau ; lorsqu’il se lave les pieds, les péchés qu’il a commis avec ses jambes, s’en vont avec l’eau qui le lave, ou avec la dernière goutte d’eau, jusqu’à ce qu’il sorte purifié de tous ses péchés ». Rapporté par Mouslim

1028 – Dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu, lalu membasuh mukanya maka keluarlah dari wajahnya semua dosa yang pernah ia lihat dengan kedua matanya bersama air, atau bersama tetesan air yang terakhir. Apabila ia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari keduanya darinya semua dosa yang ia kerjakan dengan kedua tangannya bersama air, atau bersama tetesan air yang terakhir. Apabila dia membasuh kedua kakinya maka keluarlah semua dosanya yang kedua kakinya pernah berjalan menuju padanya bersama air atau bersama tetesan air terakhir hingga keluar dari semua dosa secara bersih.” (HR. Muslim)

١٠٢٩ – وعنْهُ أَنَّ رسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَتَى المقبرةَ فَقَال: « السَّلامُ عَلَيْكُمْ دَار قَومٍ مُؤْمِنينِ وإِنَّا إِنْ شَاءَ الله بِكُمْ لاحقُونَ، ودِدْتُ أَنَّا قَدْ رأَيْنَا إِخْوانَنَا » قَالُوا: أَولَسْنَا إِخْوانَكَ يا رسُول اللَّهِ ؟ قال: « أَنْتُمْ أَصْحَابي، وَإخْوَانُنَا الّذينَ لَم يَأْتُوا بعد » قالوا: كيف تَعْرِفُ مَنْ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ من أُمَّتِكَ يا رسول الله ؟ فقال: « أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلا لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحجَّلَةٌ بيْنَ ظهْريْ خَيْلٍ دُهْمٍ بِهْمٍ، أَلا يعْرِفُ خَيْلَهُ ؟ » قَالُوا: بلَى يا رسولُ اللَّهِ، قَالَ: « فَإِنَّهُمْ يأْتُونَ غُرًّا مَحجَّلِينَ مِنَ الوُضُوءِ، وأَنَا فرَطُهُمْ على الحوْضِ » رواه مسلم

1029 – Et d’après lui aussi, le Messager d’Allah صى الله عليه وسلم se rendit une fois au cimetière et lança en direction des morts : « Que la paix soit sur vous Ô habitants de la demeure des croyants. Si Allah le veut, nous vous rejoindrons bientôt ! (Assalâmou ‘aleykoum dâra qawmin mou’minîn wa ‘innâ in châa-llâhou bikoum lâhiqoum). J’aurais aimé voir mes frères ! Les compagnons lui dirent alors : Ô Messager d’Allah, ne sommes-nous pas tes frères ? Il répondit : « Vous, vous êtes mes compagnons, par contre, mes frères sont ceux qui viendront après vous ». Ils demandèrent : Ô Messager d’Allah comment arrives-tu à parler ainsi des gens de ta communauté que tu ne connais même pas ? Il répondit : « Que direz-vous d’un homme qui cherche sa monture qui possède une tâche blanche sur le front, parmi tant d’autres (montures) qui n’en ont pas. Arrivera-t-il à reconnaître la sienne ? » Ils dirent : Si ! Ô Messager d’Allah. Il dit : « Les gens de ma communauté viendront ainsi, avec une lumière qui les caractérisera, témoignant de leurs ablutions, et me rejoindront, autour du bassin “Haoûdh” où je les aurais précédés ». Hadith rapporté par Mouslim

1029 – Dari dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah صى الله عليه وسلم pernah mendatangi kuburan (Baqi’) lalu beliau mengucapkan: “Semoga keselamatan tercurahkan kepadamu wahai kaum mukminin penghuni kuburan ini, insyaAllah kami akan menyusul kalian, aku ingin kita melihat saudara-saudara kita.” Mereka bertanya: “Bukankah kaum ini adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Kalian adalah sahabat-sahabatku, sedangkan saudara-saudara kita adalah orang-orang yang masih belum datang.” Mereka bertanya: “Bagaimana anda mengenali orang yang belum hadir dari umatmu wahai Rasulullah?!.” Beliau menjawab: “Beritahukanlah padaku, seandainya ada seorang yang memiliki seekor kuda yang putih wajahnya dan putih kaki dan tangannya ada ditengah-tengah kuda yang hitam pekat bukankah dia mengenali kudanya?”. Mereka menjawab: “Benar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka datang dalam keadaan putih bersinar wajah, tangan dan kakinya karena wudhu dan aku mengenali mereka datang pada telaga.” (HR.Muslim)

كتبه أبو سعيد محمد جبلي بن عبد الله الجزائري الفرنسي

Ditulis Oleh: Abu Said Muhammad Djebli ibn Abdullah Al-Jazairiy Al-Faransiy

Diterjemahkan oleh redaksi ashhabulhadits dengan merujuk pada pada kitab terjemahan

Sumber : كتاب: رياض الصالحين / ١٨٥ – باب فضل الوضوء

Catatan Dari Redaksi :

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد Penulis adalah Abu Said Muhammad Djebli ibn Abdullah Al-Jazairiy Al-Faransiy, beliau menuliskannya untuk kita dengan menyertakan bahasa Perancis, dimaksudkkan InsyaAllah agar saudara-saudara muslim yang tinggal disana (Perancis)bisa memahami kandungan dan maksudnya dengan baik

Minggu, 05 Oktober 2014

Mengutamakan Kerabat yang Membutuhkan








Tanya: Assalamu’alaikum….. afwan mau bertanya: Mana yang lebih utama, membantu kerabat yang belum mampu atau mengasuh anak yatim yang bukan kerabat?. (Pertanyaan dari Surabaya).

Jawab:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Yang lebih utama adalah melakukan kedua-duanya bila mampu, membantu kerabat dan mengasuh anak yatim masing-masing dari keduanya memiliki keutamaan.

Bila tidak mampu melakukan kedua-duanya maka membantu kerabat yang belum mampu itu lebih diutamakan, dalilnya adalah hadits Abu Huroiroh yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon dan Ashhabus Sunan tentang kisah seorang shohabat yang menjima’i istrinya pada siang hari di bulan Romadhon, ketika dia datang kepada Rosululloh ‘Alaihissholatu wa Salam maka beliau memerintahkannya untuk memerdekakan hamba sahaya, namun dia tidak sanggup, kemudian beliau memerintahkannya untuk berpuasa dua bulan berturut-turut, dia juga tidak sanggup, kemudian beliau berkata kepadanya:

هل تجد ما تطعم ستين مسكينا؟

“Apakah kamu mendapati apa-apa untuk kamu beri makan 60 (enam puluh) orang miskin?”, diapun berkata: “Tidak”, maka beliau mendatangkan kepadanya sekeranjang yang berisi korma, kemudian berkata:

تصدق بهذا

“Bersedekahlah dengan ini!”, diapun mengatakan kepada Rosululloh bahwa keluarganya lebih membutuhkan sedekah tersebut, maka beliau tertawa, lalu berkata kepadanya:

اذهب فأطعمه أهلك

“Pergilah kamu, lalu beri makanlah untuk keluargamu”.

Hadits tersebut menunjukan tentang mengutamakan kerabat bila mereka lebih membutuhkan, dan keadaan orang tersebut tidak mampu, kalaulah dia memiliki kemampuan tentu dia akan memberikan kepada keluarganya sekaligus orang-orang miskin lainnya, namun karena hanya itu yang dia dapat maka diapun berikan hanya kepada keluarganya.

Dan ini bukan hanya masalah memberi sedekah, masalah mendidikpun seseorang mendahulukan keluarganya:

وأنذر عشيرتك الأقربين

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabat yang paling terdekatmu”.

Bukanlah suatu sikap yang bijak bagi seseorang yang sibuk da’wah ke sana kemari, namun kerabat-kerabat dekatnya atau anak-anaknya terbengkalai dari pendidikannya:

كفى بالمرء إثما أن يضيع من يقوت

“Cukuplah bagi seseorang berdosa bila dia menerlantarkan siapa saja yang dibawah tanggung jawabnya”. Diriwayatkan oleh Muslim dan An-Nasa’iy dan ini adalah lafazhnya An-Nasa’iy.

Dijawab oleh: Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy pada tanggal 21 Syawwal 1435.

Jumat, 03 Oktober 2014

Rincian Untuk Menepis Kebencian

gif pesatuan yang menipu



بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله، أحمده وأستعينه وأستغفره. وأشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدا عبد الله ورسوله. أما بعد

Maka sesungguhnya termasuk karunia dari Alloh Ta’ala terhadap seseorang yang berupaya memberikan yang terbaik kepada dirinya dan kepada umat adalah mempelajari dan menda’wahkan As-Sunnah dan menjauhi serta mewaspadai segala bentuk penyelisihan terhadap syari’at dan segala ke-muhdatsaat-an (perkara baru dalam agama):

…..لا خير في كثير من نجواهم إلا من أمر بصدقة أو معروف أو اصلاح بين الناس

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan dari pembicaraan rahasia mereka melainkan bagi orang yang menyeru untuk bersedekah, berbuat kebaikan dan mendamaikan di antara manusia….”.

Beranjak dari ayat yang mulia ini maka kami akan menjelaskan tentang perkataan kami bersifat umum, yang lafazhnya:

“……… Dengan ini kita katakan dengan seterang-terangnya dan sejelas-jelasnya, bila masih didapati ada dari da’i yang mengaku sebagai Ahlissunnah namun menda’wahkan TN atau membelanya atau bekerjasama untuk kepentingan TN itu maka sungguh dia adalah “mufsid” (pembuat kerusakan), “shohibu hawa” (pengekor hawa nafsu) dan “mubtadi’” (pembuat kebid’ahan), walaupun dia mengaku berdiri di belakang ulama atau merasa memiliki ulama atau walaupun dia ditazkiyah dan didukung oleh ulama tetap keadaannya seperti itu:

{فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ} [يونس : 32]

“Maka tidaklah setelah kebenaran itu melainkan kesesatan”. (Yunus: 32)”.

Maka kami akan menyebutkan rincian tentang ucapan yang bersifat global itu:

Bahwasanya seseorang pantas menyandang hukum yang kami sebutkan itu bila terdapat perkara-perkara berikut ini:

1. TN (Tarbiyatun Nisa’) atau MN (Ma’hadun Nisa’) atau Pondok Wanita yang dia miliki seperti miliknya para sufiyyin dan yang semisal mereka, diantara bentuknya: -

a. Para ustadznya mengajar langsung para wanita dengan tanpa dinding pembatas, baik dengan mendengarkan bacaan tajwidnya atau semisalnya.

b. Para ustadznya mengajak para santriwati rekreasi ke gunung, ke sungai atau ke tempat wisata lainnya.

2. Keadaan pondoknya semisal pondok para Biarawati.

3. Menentang dan menolak hujjah dan dalil-dalil tentang tarbiyyah salafiyyah yang jauh dari mukholafaat (penyelisihan-penyelisihan) dan muhdatsaat (perkara-perkara baru dalam agama).

Demikian keterangan ini kami rincikan.

Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy Darul Hadits Baihan Sana’a.
MENYOAL TANYA JAWAB

Tanya: Ada yang menyatakan bahwa antum telah dilarang oleh dua orang Syaikh untuk menjawab pertanyaan, apa tanggapan antum tentang masalah ini?.

Jawab: بسم الله الرحمن الرحيم Dengan pertanyaan ini mengingatkan kita dengan perkataan para hizbiyyun:

“Al-‘Allamah Asy-Syaikh Al-Fadhil Muhammad bin Abdil Wahhab Al-Washobiy telah melarang Yahya Al-Hajuriy untuk memberi fatwa, yang memberi fatwa khusus ulama kibar semisal Asy-Syaikh Al-Imam, Al-Buro’iy, Al-‘Adniy atau orang-orang yang mereka tunjuk, adapun Yahya dan Abdul Hamid Al-Hajuriy dan orang-orangnya tidak boleh berfatwa”.

Apakah Syaikhuna Yahya dan Abdul Hamid Al-Hajuriy mengikuti apa yang dikatakan oleh Al-Washobiy?. Walaupun Al-Washobiy merasa sebagai guru namun tidak berguna baginya.

Para hizbiyyun yang menyebarkan apa yang dikatakan oleh Al-Washobiy itu malah menunjukan kejelekan Al-Washobiy karena tidak membangun perkataannya di atas hujjah dan dalil.

Alhamdulillah Syaikhuna terus memberi fatwa, hal demikian itu karena beliau mengetahui pentingnya menyampaikan al-haq, hal ini sebagaimana beliau telah paparkan penjelasannya pada kajian kitab “Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi”.

Alhamdulillah perkara ini telah pula kami jelaskan di dalam kitab “Al-‘Ilmi”.

Dijawab oleh: Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu. Click Image to Download Audio "Tidak akan bersatu dengan Kemuhdats-an"

Kamis, 02 Oktober 2014

Bersabar Dengan Akhlak Yang Mulia





٦٤٣ – وعن عائشة رضي الله عنها أَنها قالت للنبيِّ صلى الله عليه وسلم : هل أَتى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشدَّ مِنْ يوم أُحُدٍ ؟ قال : « لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَومِكِ، وكَان أَشدُّ ما لَقِيتُ مِنْهُمْ يوْم العقَبَةِ، إِذْ عرَضتْ نَفسِي على ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ ابْنِ عبْدِ كُلال، فلَمْ يُجبنِى إِلى ما أَردْتُ، فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ على وَجْهِي، فلَمْ أَسْتَفِقْ إِلاَّ وَأَنا بقرنِ الثَّعالِبِ، فَرفَعْتُ رأْسِي، فَإِذا أَنَا بِسحابَةٍ قَد أَظلَّتني، فنَظَرتُ فَإِذا فِيها جِبريلُ عليه السلام، فنَاداني فقال : إِنَّ الله تعالى قَد سَمِع قَولَ قومِك لَكَ، وَما رَدُّوا عَلَيكَ، وَقد بعثَ إِلَيك ملَكَ الجبالِ لِتأْمُرهُ بما شِئْتَ فِيهم فَنَادَانِي ملَكُ الجِبَالِ، فَسلَّمَ عَليَّ ثُمَّ قال : يا مُحَمَّدُ إِنَّ الله قَد سمعَ قَولَ قَومِكَ لَكَ، وأَنَا مَلَكُ الجِبالِ، وقَدْ بَعَثَني رَبِّي إِلَيْكَ لِتأْمُرَني بِأَمْرِكَ، فَمَا شئتَ : إِنْ شئْتَ : أَطْبَقْتُ عَلَيهمُ الأَخْشَبَيْن » فقال النبي صلى الله عليه وسلم : « بلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ الله مِنْ أَصْلابِهِم منْ يعْبُدُ الله وَحْدَهُ لا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا » متفقٌ عليه

643 – ‘Aicha رضي الله عنها rapporte qu’elle avait dit au Prophète صلى الله عليه وسلم : As-tu passé un jour plus dur, que celui (de la bataille) d’Ohod ? Il dit : « J’ai souffert du comportement de ton peuple , et la plus dure (souffrance) qu j’ai enduré était celle du jour d’El ‘Aqaba (après la mort d’Abou Taleb) lorsque j’ai demandé refuge et protection auprès de Ibn ‘Abd Yalil Ibn Abd Kilal, mais il refusa. Je partis donc, abattu, soucieux et errant sans but, jusqu’à ce que je me retrouve à Qarn Etha’alib. Je levai la tête, et je vis qu’un nuage me couvrait de son ombre. Je regardai à l’intérieur, et je vis Jibrîl (Gabriel) عليه السلام (que le salut soit sur lui), qui m’appela, en me disant : Allah تعالى (le Très-Haut) a entendu ce que ton peuple t’a dit, et Il t’a envoyé l’ange des montagnes, afin que tu lui ordonnes de faire d’eux ce que tu veux. L’ange des montagnes m’appela, me salua, et dit : Ô Mouhammad ! Allah a entendu ce que ton peuple t’a dit, et Il m’a envoyé, afin que tu m’ordonnes ce que tu veux. Si tu veux, je les écraserai entre ces deux montagnes (qui entourent la Mecque) » Je dis : « J’espère plutôt qu’Allah fera sortir de leurs reins (de leur descendance) ceux qui adoreront Allah seul, et ne Lui associeront rien ». Ayant reçu le consensus

643 – Dari Aisyah رضي الله عنها di berkata kepada Nabi صلى الله عليه وسلم : “Apakah engkau pada suatu hari (pernah) mengalami penderitaan lebih serius daripada perang Uhud?” Beliau menjawab : “Aku benar-benar telah mendapat penderitaan karena ulah kaummu, dan penderitaan yang paling berat yang aku terima dari mereka adalah pada hari Aqabah. Ketika itu aku menawarkan dakwahku kepada putera Abdulyalil ibn Abdukulaal, ternyata dia tidak menyambut apa yang aku inginkan, maka aku pergi dengan perasaan sedih sekali (yang menyelimuti) sepanjang perjalananku. Aku tidak tersadarkan diri kecuali di Qarn Ats Tsal’alib, maka aku angkat kepalaku ternyata ada mendung yang menaungiku. Aku memperhatikannya ternyata disana ada Jibril (Gabriel) عليه السلام, dia memanggilku dan mengatakan: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mendengar ucapan kaummu terhadapmu, dan bantahan-bantahan mereka terhadapmu. Dia mengirim malaikat penjaga gunung kepadamu agar kamu memerintahkannya untuk melakukan apa saja yang kamu kehendaki terhadap mereka.” Maka malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kemudian berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu terhadapmu, aku adalah malaikat penjaga gunung, aku diutus oleh tuhanmu kepadamu agar kamu memerintahkan aku sehubungan dengan perkaramu ini, terserah engkau, kalau kamu mau akan aku jatuhkan dua gunung ini kepada mereka.” Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Justru aku perharap semoga Allah melahirkan dari tulang rusuk mereka orang-orang yang menyembah Allah semata tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.” (HR. Bukhari-Muslim)

٦٤٥ – وعن أَنس رضي الله عنه قال : كُنتُ أَمْشِي مَعَ رسول الله صلى الله عليه وسلم وعليه بُردٌ نَجْرَانيٌّ غلِيظُ الحَاشِيةِ، فأَدر كَهُ أَعْرَابيٌّ، فَجبذهُ بِرِدَائِهِ جَبْذَة شَديدَةً، فَنظرتُ إلى صفحة عاتِقِ النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم، وقَد أَثَّرَت بِها حَاشِيةُ الرِّداءِ مِنْ شِدَّةِ جَبذَتِهِ، ثُمَّ قال : يَا مُحَمَّدُ مُرْ لي مِن مالِ اللَّهِ الذي عِنْدَكَ. فالتَفَتَ إِلَيْه، فضحِكَ، ثُمَّ أَمر لَهُ بعَطَاءٍ. متفقٌ عليه

645 – Anas رضي الله عنه a rapporté ceci : Je marchais avec le Messager d’Allah صلى الله عليه وسلم, alors qu’il portait une longue robe en étoffe de laine, avec une lisière épaisse sur le pourtour de son cou. Tout à coup, un bédouin arriva vers lui (par derrière), et le tira de sa robe, si vigoureusement, qu’en regardant le cou du Prophète صلى الله عليه وسلم, je vis que la lisière de la robe, y laissa des traces. Il lui dit : Ô Mouhammed ! Ordonne qu’on me donne des biens d’Allah, que tu détiens ! Le Messager d’Allah صلى الله عليه وسلم, se tourna vers lui, sourit, puis ordonna qu’on lui fasse un don. Ayant reçu le consensus

645 – Dari Anas رضي الله عنه dia berkata: “Saya pernah berjalan bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم, beliau mengenakan selimut buatan Najran yang tebal pinggirnya, tiba-tiba beliau didatangi oleh seorang badui lalu dia menarik selendang beliau dengan keras sekali. Maka saya lihat leher Nabi صلى الله عليه وسلم telah lecet oleh pinggiran selimut yang ditarik dengan keras itu, kemudian dia berkata: “Hai Muhammad berikanlah kepadaku harta Allah yang ada padamu.” Maka beliau menoleh kepadanya sambil tersenyum kemudian beliau memerintahkan untuk memberinya.” (HR. Bukhari-Muslim)

٦٤٦ – وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال : كأَنِّي أَنظُرُ إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم يحْكِي نَبِيًا مِن الأَنبياءِ، صلوَاتُ اللَّهِ وَسلامُه عَلَيهم، ضَرَبَهُ قَومُهُ فَأَدموهُ، وَهُوَ يَمسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجهِهِ، ويقول : « اللَّهُمَّ اغفِرِ لِقَومي فَإِنَّهُم لا يَعْلَمُونَ » متفقٌ عليه

646 – Ibn Mas’oud رضي الله عنه a dit : C’est comme si je regardais encore le Messager d’Allah صلى الله عليه وسلم, racontant ce qui était arrivé à un des prophètes صلوَاتُ اللَّهِ وَسلامُه عَلَيهم, lorsque son peuple le frappa, jusqu’à ce que le sang coula. Il essuya son visage, et dit : « Ô Allah ! Pardonne à mon peuple, car ils ne savent pas ! ». Ayant reçu le consensus

646 – Dari Ibn Mas’ud رضي الله عنه dia berkata: “Sepertinya saya melihat Rasulullah صلى الله عليه sedang menceritakan seorang Nabi dari para Nabi صلوَاتُ اللَّهِ وَسلامُه عَلَيهم, Nabi itu dipukul oleh kaumnya hingga berdarah, dia menyeka darah dari mukanya seraya berdo’a: “Ya Allah ampunilah mereka karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari-Muslim)

٦٤٧ – وعن أبي هريرة رضي الله عنه أَن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « لَيس الشَّديدُ بِالصُّرعَةِ، إِنَّما الشديدُ الذي يَملِكُ نفسهُ عِند الغضبِ » متفقٌ عليه

647 – D’après Abou Houraïra رضي الله عنه, le Messager d’Allah صلى الله عليه وسلم, a dit : « L’homme fort, n’est pas celui qui triomphe de ses adversaires, mais c’est plutôt celui, qui se maîtrise dans les moments de colère ». Ayant reçu le consensus

647 – Dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Bukanlah orang kuat itu orang yang selalu menang gulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari-Muslim)

كتبه أبو سعيد محمد جبلي بن عبد الله الجزائري الفرنسي

Ditulis Oleh: Abu Said Muhammad Djebli ibn Abdullah Al-Jazairiy Al-Faransiy

Diterjemahkan oleh Redaksi ashhabulhadits dengan merujuk pada pada kitab terjemahan

Sumber : كتاب : رياض الصالحين / ٧٥ – باب العفو والإِعراض عن الجاهلين

Catatan Dari Redaksi :

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد Penulis adalah Abu Said Muhammad Djebli ibn Abdullah Al-Jazairiy Al-Faransiy, beliau menuliskannya untuk kita dengan menyertakan bahasa Perancis, dimaksudkkan InsyaAllah agar saudara-saudara muslim yang tinggal disana (Perancis) bisa memahami kandungan dan maksudnya dengan baik.

Rabu, 01 Oktober 2014

Allah Lebih Gembira Dengan Taubat Hambanya

Allah Lebih Gembira Dengan Taubat Hambanya 

 Asy-Syaikh Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya bin Zaid Al-Hajury Az-Za’kariy Hafidzahullah

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد
Allah ta’ala  berfirman :

واني لغفار لمن تاب وآمن وعمل صالحا ثم اهتدى
” Sesungguhnya Aku adalah dzat yang Maha pengampun bagi siapa yang bertaubat, beriman dan beramal shalih kemudian mendapat petunjuk” QS.Thaha

Dan  Allah ta’ala berfirman:
إلا من تاب وآمن وعمل عملا صالحا فأولئك يبدل الله سيائتهم حسنات
“Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal dengan amalan yang shalih maka mereka itu Allah akan gantikan kejelekan kejelekannya dengan kebaikan” QS. Al Furqan.
Bertaubat dari seluruh dosa dan maksiat adalah perkara yang wajib.
Dan taubat apabila telah terpenuhi syarat syaratnya, akan diterima secara menyeluruh baik berupa kekufuran atau selainnya.Dan Alhamdulillah, aku telah membahas syarat-syaratnya pada suatu tulisan tersendiri. Dan diantara keutamaan taubat adalah apa yang telah datang dari hadits:

عن الأَغرِّ بنِ يسارٍ المُزَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : « يَا أَيُهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ ، فَإِنِّي 

أَتُوبُ في الْيَوْمِ مَائَةَ مَرَّةٍ » .أخرجه مسلم


Al Aghor bin Yasaar rahdhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai sekalian manusia?! bertaubatlah kepada Allah dan beristighfar/mohonlah pengampunan kepada Allah! karena sesungguhnya Aku bertaubat kepada  Allah dalam sehari sebanyak 100 kali” HR.Muslim

وَعَنْ أَبي هُرَيرةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : « وَاللهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيهِ في الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً » .أخرجه البخاري

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah sesungguhnya saya beristighfar(memohon ampunan) dan bertaubat keada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali” HR.Al Bukhary

وَعَنْ أَبي حمزةَ أَنس بِنِ مَالِكٍ الأَنْصَارِيِّ خَادِمِ رسولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : « للهُ أَفْرَحُ بِتَوبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلى بَعِيرِهِ وَقَدْ أَضَلَّهُ في أَرْضٍ فَلاةٍ » .متفق عليه

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al Anshary radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ” Sungguh Allah lebih gembira dengan  taubat hambanya, yang mana hamba tersebut  jatuh dari ontanya, dan ia telah kehilangan ontanya pada tanah yang luas” Muttafaqun Alaihi

Dan dalam riwayat Muslim disebutkan:

وَفي روايةٍ لمسلمٍ : « للهُ أَشَدُّ فَرَحَاً بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضٍ فَلاةٍ ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا ، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطجَعَ في ظِلِّهَا وَقَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إَذْ هُوَ بها قَائِمَةً عِنْدَهُ ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ ، اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدي وَأَنَا رَبُّكَ ، أَخْطَاءَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ
 » .
“Sungguh Allah lebih gembira dengan taubat salah seorng dari kalian tatkala ia bertaubat kepadaNya, dibandingkan dengan kegembiraan seseorang yang berada diatas tunggangannya di suatu tanah yang luas, lalu tunggangannya tersebut  lepas, sedangkan makanan dan minumannya pada tunggangannya tersebut. ia pun putus asa untuk mendapatkan ontanya.
Maka ia mendatangi suatu pohon dan berbaring dibawah naungan pohon tersebut dan ia sungguh telah berputus asa.
Ditengah keadaan itu, ternyata ontanya telah ada berdiri didekatnya. Segera iapun mengambil tali ontanya seraya berkata lantaran sangat gembira ( “wahai Allah kamu adalah hambaku dan aku adalah Rabb mu) keliru berucap karena terlalu gembira”


وَعَنْ أَبي مُوسَى عبدِ اللهِ بن قَيسٍ الأَشْعَرِيِّ رَضِيَّ اللهُ عَنْهُ قَالَ : « إِنَّ اللهَ تَعَالى يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسِطُ يَدَهُ في النَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ ، حَتَّى تَطْلِعُ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا » .أخرجه مسلم

Dari Abu Musa Abdullah bin Qais Al Asy ary radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersada:

” Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya dimalam hari untuk memberi taubat kepada pelaku dosa/kesalahan di waktu siang, dan membentangkan tangan-Nya disiang hari untuk memberi taubat kepada pelaku dosa di waktu malam, sampai matahari terbit dari arah barat”HR Muslim
Dan banyak keutamaan lainnya,
Saya memohon kepada  Allah ta’ala agar Ia memberikan rizki taubat nashuha kepada kita, yang  dengannya dosa-dosa kita terampuni serta kekurangan-kekurangan kita tertutupi.
Alhamdulillah

Ditulis oleh Abu Muhammad Al Hajury. 19 Dzulqoedah 1435 H

Alih bahasa : Abu Ubaid Fadli Soroako As-Sulawesiy


NASKAH ASLI :

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد يقول الله تعالى (( واني لغفار لمن تاب وآمن وعمل صالحا ثم اهتدى)) ويقول تعالى (( إلا من تاب وآمن وعمل عملا صالحا فأولئك يبدل الله سيائتهم حسنات)) والتوبة واجبة من جميع الذنوب والمعاصي كما تصح منها كلها اذا توفرت شروطها من الكفر وما دونه وقد تكلمت عن شروطها في مؤلف مستقل بحمد الله تعالى ومن فضائلها ما جاء
عن الأَغرِّ بنِ يسارٍ المُزَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : « يَا أَيُهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ ، فَإِنِّي أَتُوبُ في الْيَوْمِ مَائَةَ مَرَّةٍ » .أخرجه مسلم
وَعَنْ أَبي هُرَيرةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : « وَاللهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيهِ في الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً » .أخرجه البخاري
وَعَنْ أَبي حمزةَ أَنس بِنِ مَالِكٍ الأَنْصَارِيِّ خَادِمِ رسولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : « للهُ أَفْرَحُ بِتَوبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلى بَعِيرِهِ وَقَدْ أَضَلَّهُ في أَرْضٍ فَلاةٍ » .متفق عليه
وَفي روايةٍ لمسلمٍ : « للهُ أَشَدُّ فَرَحَاً بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضٍ فَلاةٍ ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا ، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطجَعَ في ظِلِّهَا وَقَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إَذْ هُوَ بها قَائِمَةً عِنْدَهُ ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ ، اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدي وَأَنَا رَبُّكَ ، أَخْطَاءَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ » .
وَعَنْ أَبي مُوسَى عبدِ اللهِ بن قَيسٍ الأَشْعَرِيِّ رَضِيَّ اللهُ عَنْهُ قَالَ : « إِنَّ اللهَ تَعَالى يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسِطُ يَدَهُ في النَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ ، حَتَّى تَطْلِعُ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا » .أخرجه مسلم
وغيرها كثير فاسأل الله تعالى ان يرزقنا توبة نصوحا يغفر بها ذنوبنا وبستر بها عيوبنا والحمد لله.
أبو محمد الحجوري
١٩/١١/١٤٣٥

Sikap Para Penuntut Imu Terhadap Ahli Ilmi | ATS TSABITTIN

Books Flying Through Nature


Tanya: Apa pendapat antum dengan turunnya Syekhuna Abdurrazzak Al-Badry di markiz-markiz milik kawan-kawan Firanda?, apa beliau salah?. Dan bagaimana dengan tazkiyyah beliau kepada Firanda dan kawan-kawannya?.


Jawab: بسم الله الرحمن الرحيم


Untuk menyatakan bahwa beliau (Asy-Syaikh Abdurrozzaq Hafizhohulloh) adalah salah, maka kami tidak menyatakan hal ini, karena kami tidak memiliki alasan.


Turunnya beliau ke tempat-tempat seperti yang kita ketahui itu sebatas yang beliau kenal, beliau memiliki murid-murid dari Indonesia di Madinah, mereka itu yang beliau kenal, dan tentu ketika mereka memintanya untuk turun ke tempat mereka maka beliau akan penuhi.


Adapun tentang penyimpangan dan penyelisihan yang terjadi pada murid-murid beliau mungkin ketidak tahuan beliau.


Dan apakah orang yang pemberani menyalahkan beliau sudah menyampaikan hujjah dan penjelasan kepada beliau tentang keadaan murid-murid beliau?.


Sungguh masih teringat dengan kedatangan Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy ‘Afallohu ‘anhu di Dammaj, ketika ada tanya jawab, lalu beliau ditanyakan tentang da’wah salafiyyah di Indonesia, beliapun memuji dan kagum terhadap da’wah di Indonesia, kemudian beliau sebutkan beberapa da’i, ternyata para da’i yang beliau sebutkan adalah hizbiyyun, itu karena sepengatahuan beliau kepada mereka, dan secara otomatis beliau telah memberi tazkiyyah kepada mereka sesuai yang beliau dapati dari mereka, berbeda kalau beliau melihat penyimpangan atau mendengarkan langsung, kemudian membiarkan atau bahkan mendukungnya maka harus kita salahkan, sebagaimana keadaan Abdulloh bin Abdirrohim Al-Bukhoriy, mendengarkan fitnah dari Usamah Faishol Mahri kemudian ia tanggapi dengan menambah fitnah yaitu berani berbicara tentang Al-Imam Al-Wadi’iy Rohimahulloh dan mensifatinya dengan sifat khowarij.


Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy ‘Afallohu ‘anhu ketika di Dammaj sempat menyebutkan Ja’far Umar Tholib dengan sebutan jarh (celaan), karena beliau sudah mengetahui kejelekannya, berbeda dengan sebelumnya, beliau masih mengakui Ja’far dan memenuhi undangannya namun ketika Ja’far terjatuh beliaupun tidak lagi menoleh kepadanya.


Adapun kalau masyayikh Ahlissunnah semisal Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy, Asy-Syaikh Abdurrozzaq dan para masyayikh lainnya yang istiqomah di atas As-Sunnah keluar da’wah ke tempat-tempat yang kita ketahui tempat-tempat tersebut milik hizbiyyun atau milik orang masih memiliki perkara muhdats dalam agama, maka jangan tergesa-gesa bagi anda menyalahkan masyayikhnya, akan tetapi hendaknya anda bertanya:


1. Apakah masyayikh itu sudah mengetahui keadaan orang yang mereka turun ke tempatnya?.


2. Apa sebabnya masyayikh itu turun ke tempatnya?.


Dan kita bisa menyalahkan masyayikh tersebut kalau kita sudah menghubungi mereka, kita sebutkan bahwa kita salafiyyun dari murid-murid Darul Hadits Dammaj menginginkan supaya mereka keluar da’wah ke tempat kita, dan jangan ke murid-murid mereka karena hizbiyyun, akan tetapi mereka tetap tidak mau ke tempat kita, malah mereka pergi ke tempat hizbiyyun itu, bila seperti ini keadaan mereka maka perkaranya telah jelas, dan tidak mengapa untuk kita salahkan mereka.

Adapun kalau belum pernah kenalan, belum pernah ada hubungan serta belum pernah memberikan keterangan tentang hizbiyyun lalu kemudian berani menyalahkan para masyayikh yang turun ke tempat hizbiyyun itu maka ini terlalu melampui dalam menyikapi. As’alullaha As-Salamata wal Karomah.


Adapun masalah tazkiyyah maka ini juga sesuai yang mereka ketahui, Umar Ibnul Khoththab Rodhiyallohu ‘anhu memberi tazkiyyah kepada Abdurrohman Muljam dan bahkan beliau mengutusnya keluar da’wah di Mesir, apakah Umar mengetahui apa yang disembunyikan oleh Abdurrohman?, dan apakah Umar mengetahui keadaan tempat da’wah di Mesir?.


Bila kemudian terjadi apa yang terjadi, maka bukanlah Umar Rodhiyallohu ‘anhu yang perlu disalahkan, namun yang disalahkan adalah orang yang menyelisihi da’wah Umar tersebut.


Begitu pula Syaikhuna Yahya Al-Hajuriy ‘Afallohu ‘anhu memberikan tazkiyyah terhadap murid-muridnya sebagaimana dalam “Thobaqot”, ternyata banyak yang menyimpang dan tergelincir, dengan disaksikan langsung oleh Syaikhuna Yahya Al-Hajuriy ‘Afallohu ‘anhu:


رب اشرح لي صدري ويسر لي أمري واحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي


“Wahai Robbku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku dan lepaskanlah kekakuan dari lisanku supaya mereka memahami perkataanku”.


Dijawab oleh:

Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu Di Darul Hadits Sana’a (1 Dzulhijjah 1433).

Senin, 29 September 2014

Beda Celaan Dan Pembenaran

Beda celaan dan pembenaran



Tanya: Akhy apa benar Syekh Yahya tidak mengakui kalau An-Nawawy sebagai imam?, dan benarkah Syekh Yahya masih mencela Imam Nawawy?.

Jawab: Ucapan-ucapan ini yang pernah kami dengar dari seorang da’i Luqmaniy.

Selama di Dammaj hingga di Sana’a ini, tidak pernah kami mendengar Syaikhuna mengatakan Al-Imam An-Nawawiy bukan imam, bahkan sudah sangat banyak kami mendengar beliau ketika membaca “Shohih Muslim” ketika membaca bab, maka beliau berkata:

قال الإمام أبو زكريا النووي رحمه الله

“Al-Imam Abu Zakariya An-Nawawiy Rohimahulloh berkata”.

Dan mungkin pada waktu yang lain Syaikhuna menyebutkan Al-Imam An-Nawawiy hanya dengan menyebutkan:

قال النووي

“An-Nawawiy berkata”.

Lalu mungkin mereka ta’wil lagi ini bukti tidak mengakui An-Nawawiy sebagai imam. Wallohu A’lam.

Adapun celaan darinya kepada Al-Imam An-Nawawiy ini juga tidak benar, hanya saja Syaikhuna Yahya ‘Afallohu ‘anhu pernah menyebutkan An-Nawawiy terbawa kepada ta’wilan-ta’wilan diantaranya beliau sebutkan tentang ucapan Al-Imam An-Nawawiy sesuai pada nukilannya:

الإعراض والغضب والسخط من الله تعالى هو إرادته إبعاد ذلك المغضوب عليه من رحمته وتعذيبه وإنكار فعله وذمه.

Syaikhuna ketika membaca Syarh An-Nawawiy, bila beliau menemukan penjelasan seperti ini maka beliau sebutkan:

هذا تأويل منه، فلا يحتاج إلى تأويل

“Ini adalah ta’wil darinya, ini tidak membutuhkan kepada ta’wil”.

Orang yang menginginkan fitnah dan menanam kebencian kepada Syaikhuna kemudian menta’wil lagi ucapan Syaikhuna, bahwa itu adalah celaan terhadap Al-Imam An-Nawawiy. Hasbunallohu wani’mal wakil.

Ditanggapi oleh:
Abu Ahmad Muhammad Al-Limboriy Hadahullohu wa ‘Afah (7 Dzulqo’dah 1435).

Keutamaan Amal Sholeh, Manusia Dan Kematian

Keutamaan amal sholeh, manusia dan kematian

Asy-Syaikh Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya bin Zaid Al-Hajury Az-Za’kariy Hafidzahullah

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Berikut beberapa keutamaan amalan shalih~ semoga Allah memudahkan kita meraih ridha Nya ~

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِني إِذَا رَأَيْتُكَ طَابَتْ نَفْسِي وَقَرَّتْ عَيْنِي ، أَنْبِئْنِي عَنْ كُلِّ شَيْءٍ ، قَالَ : « كُلُّ شَيْءٍ خُلِقَ مِنَ المَاءِ ، فَقُلْتُ أَخْبِرْني بِشَيْءٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ ، قَالَ : « أَطْعِمِ الطَّعَامَ ، وَاَفْشِ السَّلامَ ، وَصِلِ الأَرْحَامَ ، وَصَلِّ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلِ الْجَنَّةَ بِسَلامٍ » .

أخرجه أحمد وابن أبي الدنيا وابن حبان في صحيحه واللفظ له

Dari Abu Hurairah radyiallahu ‘anhu berkata : aku berkata “Yaa Rasulullah sesungguhnya aku bila melihatmu, enak dan senang diriku, maka ceritakan padaku tentang segala sesuatu?!

Beliau berkata: ” Segala sesuatu diciptakan dari air”

Aku katakan: “Kabarkan aku tentang suatu amalan, bila aku lakukan maka aku akan masuk surga?

Beliau menjawab: “Berilah makan orang yang lapar, sebarkanlah salam, sambung hubungan kekerabatan, sholatlah diwaktu malam, dimana orang -orang sedang tidur”

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Abi Dunya dan Ibnu Hiban pada shohih beliau dan ini adalah lafadz Ibnu Hibban.

وَعَنْ أَبِي مَالِكٍ الأَشْعَريِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : « إِنَّ في الْجَنَّةِ غُرَفَا يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا ، وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَاأَعَدَّهَااللهُ لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ ، وَأَفْشَى السَّلامَ وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

أخرجه ابن حبان في صحيحه

Dari Abu Malik Al Asy ary radhiyallahu ‘anhu berkata: dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

” Sesungguhnya di surga ada kamar kamar, bagian luarnya kelihatan dari dalamnya dan bagian dalamnya kelihatan dari luarnya, Allah persiapkan bagi orang yang memberi makan orang lapar, menyebar salam dan melaksanakan shalat malam dikala orang-orang tidur. Diriwayatkan oleh Ibnu Hiban pada shohih beliau.

وفي الباب عن عبدالله بن سلام بلفظ مقارب وأما شواهد الأحاديث ففي الصحيح عن عبدالله بن عمرو سئل رسول الله صلى عليه أي الاسلام خير قال تطعم الطعام وتقرء السلام على من عرفت ومن لم تعرف.

Juga dalam pembahasan ini, hadits dari Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu dengan lafadhz yang dekat maknanya, adapun yang memperkuat hadits tersebut adalah hadits yang diriwayatkan dalam shahih dari Abdullah bin Amr radhiyallaghu ‘anhu beliau berkata: Rasulillah shallallahu alaihu wa sallam ditanya tentang islam apakah yang paling baik?! beliau menjawab ” (islam yang paling baik itu adalah) kamu memberi makan orang yanag lapar dan mengucapkan salam kepada yang kamu kenali ataupun yang tidak kamu kenal”

Abu Muhammad Al Hajury 17 Dzul Qa’dah 1435

قال ابن ابي شيبة في المصنف (٣٤٧٢٣) حدثنا أبو الأحوص، عن سماك، عن النعمان بن بشير، قال: سمعته يقول: ” مثل ابن آدم ومثل الموت مثل رجل كان له ثلاثة أخلاء فقال لأحدهم: ما عندك؟ فقال: عندي مالك فخذ منه ما شئت، وما لم تأخذ فليس لك، ثم قال للآخر: ما عندك؟ قال: أقوم عليك فإذا مت دفنتك وخليتك، ثم قال للثالث: ما عندك؟ فقال: أنا معك حيثما كنت، قال: فأما الأول فماله، ما أخذ فله، وما لم يأخذ فليس له، وأما الثاني فعشيرته، إذا مات قاموا عليه ثم خلوه، وأما الثالث فعمله حيثما دخل دخل معه ” هذا اثر صحيح.

يدل عليه حديث أنس رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” يتبع الميت ثلاثة، فيرجع اثنان ويبقى معه واحد: يتبعه أهله وماله وعمله، فيرجع أهله وماله ويبقى عمله ” متفق عليه.

Berkata Ibnu Abi Syaibah rahimahulah dalam kitab Al Mushannaf 34723

Menceritakan kepada kami Abul Ahwash dari Simak dari Nu’man bin Basyiir berkata: saya mendengarkan beliau berkata:

“Perumpamaan manusia dengan kematian adalah bagaikan seseorang yang memiliki tiga orang kawan, ia berkata kepada salah seorang dari mereka:

Apa yang ada padamu?

Ia menjawab: ” padaku hartamu, maka ambillah semaumu, apa yang tidak kau ambil maka bukan milikmu”

kemudian ia berkata kepada kawannya yang lain: “Ada apa denganmu?!

Ia menjawab : ” aku akan mengurusimu, bila kamu mati aku akan menguburmu dan meninggalkanmu”

Kemudian ia berkata kepada yang ke tiga

” Ada apa dengan mu?!”

Ia menjawab ” aku akan terus bersama mu dimana pun kamu berada!”

Beliau: “Adapun yang orang yang pertama maka itu adalah hartanya, apa yang ia ambil maka itulah bagiannya dan apa yang ia tidak ambil maka bukan untuknya.

Adapun yang ke dua, maka itu adalah keluarganya, apabila ia mati maka mereka akan mengurusinya kemudian meninggalkannya( di kubur)

Adapun yang ketiga maka itu adalah amalan nya, dimanapun ia masuk maka ia ikut masuk bersamanya”.

Ini adalah suatu Atsar yang shahih.

Hadits Anas bin Malik radhuyallahu ‘anhu nenunjukkan akan benarnya hal tersebut, Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata :

“Yang mengikuti mayat ada tiga perkara, kembali dua perkara dan yang tinggal bersama mayat satu.

Keluarga, harta dan amalanya yang akan mengikutinya.

Harta dan keluarganya kembali dan amalannya yang tinggal bersamanya”

muttafaqun alaihi.

Saya memohon kepada Allah akan baiknya dan diterimanya amalan.

Abu Muhammad Al-Hajuri, 17 Dzulqedah 1435 H

Alih bahasa : Abu Ubaid Fadli Soroako As-Sulawesi



Naskah Asli :

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

فهذه بعض فضائل العمل الصالح أعننا الله على مرضاته

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِني إِذَا رَأَيْتُكَ طَابَتْ نَفْسِي وَقَرَّتْ عَيْنِي ، أَنْبِئْنِي عَنْ كُلِّ شَيْءٍ ، قَالَ : « كُلُّ شَيْءٍ خُلِقَ مِنَ المَاءِ ، فَقُلْتُ أَخْبِرْني بِشَيْءٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ ، قَالَ : « أَطْعِمِ الطَّعَامَ ، وَاَفْشِ السَّلامَ ، وَصِلِ الأَرْحَامَ ، وَصَلِّ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلِ الْجَنَّةَ بِسَلامٍ » .

أخرجه أحمد وابن أبي الدنيا وابن حبان في صحيحه واللفظ له

وَعَنْ أَبِي مَالِكٍ الأَشْعَريِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : « إِنَّ في الْجَنَّةِ غُرَفَا يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا ، وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا أَعَدَّهَا اللهُ لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ ، وَأَفْشَى السَّلامَ وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ » .

أخرجه ابن حبان في صحيحه

وفي الباب عن عبدالله بن سلام بلفظ مقارب وأما شواهد الأحاديث ففي الصحيح عن عبدالله بن عمرو سئل رسول الله صلى عليه أي الاسلام خير قال تطعم الطعام وتقرء السلام على من عرفت ومن لم تعرف.

أبو محمد الحجوري.

١٧ القعدة ١٤٣٥

قال ابن ابي شيبة في المصنف (٣٤٧٢٣) حدثنا أبو الأحوص، عن سماك، عن النعمان بن بشير، قال: سمعته يقول: ” مثل ابن آدم ومثل الموت مثل رجل كان له ثلاثة أخلاء فقال لأحدهم: ما عندك؟ فقال: عندي مالك فخذ منه ما شئت، وما لم تأخذ فليس لك، ثم قال للآخر: ما عندك؟ قال: أقوم عليك فإذا مت دفنتك وخليتك، ثم قال للثالث: ما عندك؟ فقال: أنا معك حيثما كنت، قال: فأما الأول فماله، ما أخذ فله، وما لم يأخذ فليس له، وأما الثاني فعشيرته، إذا مات قاموا عليه ثم خلوه، وأما الثالث فعمله حيثما دخل دخل معه ” هذا اثر صحيح.

يدل عليه حديث أنس رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” يتبع الميت ثلاثة، فيرجع اثنان ويبقى معه واحد: يتبعه أهله وماله وعمله، فيرجع أهله وماله ويبقى عمله ” متفق عليه.

فاسأل الله تعالى صلاح العمل والقبول له.

أبو محمد الحجوري ١٧/١١/١٤٣٥.

Bingkisan Untuk Saudara-Saudaraku Yang Sedang Sakit Dan Terluka

BINGKISAN BERMANFAAT
” Iyaadah wa Ifaadah ”

ditulis oleh:

Abu Ja’far Al-Harits Al-Minangkabawy Saddadahulloh

O”rang yang sedang menderita sakit adalah orang yang paling dekat dalam menerima wejangan dan nasehat dengan perkataan Alloh, petunjuk Rosululloh serta pengarahan para ulama umat ini. Kedua hal tersebut lebih dia butuhkan ketimbang lelucon, cerita-cerita atau berbagai jenis ramuan, karena manfaat keduanya adalah di dunia dan akhirat. Aku meminta kepada Alloh untuk menjadikan risalah ini ikhlas  hanya bagi wajah-Nya yang mulia, bermanfaat bagiku di dunia dan akhirat, serta bagi siapa saja yang ingin mengambil dan menyebarkan faidah dari kitab ini. Allohlah yang memberikan taufik kepada kebenaran, Dialah tempat meminta pertolongan, Dialah tempat berserah diri, tidak ada upaya untuk menolak bahaya dan tidak ada kekuatan untuk mendatangkan kebaikan kecuali dengan pertolongan-Nya. Cukuplah Dia bagi kita dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.

Pengantar

 Syaikh Muhammad bin ‘Ali bin Hizam Hafizhohulloh


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه أما بعد

Saya telah membaca buku karya saudara kami yang mulia, da’i kepada Alloh Abu Ja’far Al-Harits bin Dasril Al-Indonisy, yang berjudul ‘Iyaadah wa Ifaadah. Maka saya melihat sebuah buku bermanfaat, dimana penulisnya telah mencurahkan kesungguhannya untuk menulisnya. Kami memohon kepada Alloh, agar menjadikan penulis dan bukunya bermanfaat bagi Islam dan muslimin, serta menganugerahkan kepadanya taufik, ketegaran dan kekokohan di dunia dan di akhirat.

Ditulis oleh: Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Ali bin Hizam Al-Fadhly Al-Ba’dany

Baca  lebih lengkap download di sini !




Sumber : http://www.ahlussunnah.web.id/

Minggu, 28 September 2014

Istiqomah Diatas As Sunnah




Tanya: Bagaimana supaya ana dan keluarga bisa istiqamah dengan Assunnah?, ana dan keluarga sekarang tambah tidak tenang, terlebih lagi ketika baca sms-sms berisikan pembicaraan tentang antum dari petikan celaan dan ejekan orang-orang yang antum kenal, ana kadang terasa sesak, belum juga hinaan orang-orang disekitarnya, ana dan keluarga kadang mikir entah mau berbuat apa?, mohon antum bisa beri nasehat untuk kami dan mendoakan kami. Jazakumullahu khairan katsiran.

Jawab: بسم الله الرحمن الرحيم

Tidak ada untaian kata yang lebih indah dari pada perkataan Alloh Ta’ala:

واستقم كما أمرت ولا تتبع أهواءهم

“Dan istiqomahlah terhadap apa-apa yang telah diperintahkan kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka”.

Kita mengetahui satu ilmu lalu kita amalkan maka itu lebih baik bagi kita, dan jangan sampai kita meremehkan satu amalan sholihpun, sebagian salafush sholih ditanya:

كيف استقامت أحوالكم؟

“Bagaimana istiqomah keadaan-keadaan kalian?”.
Mereka menjawab:

كنا نأتي المستحبات كأنها واجبات
ونترك المكروهات كأنها محرمات
بهذا استقامت أحوالنا.

“Kami melaksanakan amalan-amalan mustahab (sunnah) seakan-akan dia adalah kewajiban-kewajiban, dan kami meninggalkan perbuatan-perbuatan makruh seakan-akan dia adalah perbuatan-perbuatan harom, dengan sebab ini istiqomahlah keadaan kami”.

Yang mengejek dan mencela serta mentahdzir orang dari kita maka tidak akan memudhorotkan kita -Biiznillah-, kita bersendirian diperbincangkan oleh orang banyak, kita dicerca, diejek dan dijuluki dengan julukan-julukan perendahan dan penghinaan maka kita mengharap ganjaran pahala dari Alloh dibalik semua itu, semoga Alloh meninggikan derajat kita dan menambahkan kebaikan untuk kita.
Perbuatan-perbuatan mereka itu kita kembalikan kepada Alloh Ta’ala dan kita terus mengikuti jawaban salafush sholih yang kami sebutkan tadi, dan diantara doa yang terindah untuk kita baca adalah:

ربنا اغفرلنا ذنوبنا وإسرافنا في أمرنا وثبت أقدامنا

“Wahai Robb kami, ampunilah kami, dosa-dosa kami dan sikap-sikap kami yang berlebihan dalam perkara kami, dan kokohkanlah pijakan-pijakan kami”.

Dijawab oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu Di Darul Hadits Sana’a (25 Dzulqo’dah 1435).

Kasih Sayang Allah Kepada Wali-Nya





Asy-Syaikh Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya bin Zaid Al-Hajury Az-Za’kariy Hafidzahullah

:الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله اما بعد
قال ابن ابي الدنيا (٣١ )- حدثنا عبد الله، نا خلف بن هشام، نا أبو عوانة، قال: «رأيت محمد بن سيرين يمر في السوق وكبر الناس» ، قال خلف: «كان محمد بن سيرين قد أعطي هديا وسمتا، وخشوعا، فكان إذا رأوه ذكروا الله»

Alhamdulillah Wash Shalatu Was Salaam ‘ala Rasulillah Amma Ba’duh :

Berkata Ibnu Abi Dunya: Menceritakan kepada kami Abdullah, mengabarkan kepada kami Khalaf bin Hisyam, mengabarkan kepada kami Abu Awanah beliau berkata: “Aku melihat Ibnu Sirin berjalan di pasar dan orang-orang bertakbir”
Berkata Khalaf ” Ibnu Sirin adalah seseorang yang telah dianugrahi perangai baik, wibawa serta ketenangan. Sehingga dahulu kalau orang-orang melihat beliau mereka berdzikir”

(٣٢)- حدثنا عبد الله، نا سريج بن يونس، نا علي بن هاشم، ووكيع، عن ابن أبي ليلى، عن الحكم، عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس: “{سيجعل لهم الرحمن ودا} [مريم: ٩٦] قال: يحبهم ويحببهم “

32. Menceritakan kepada kami Abdullah, mengabarkan kepada kami Suraij bin Yunus, mengabarkan kami Ali bin Hasyim dan Waki’ dari Ibnu Abi Laila dari Al-Hakam, dari Sa’id bin Jubair dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma menjelaskan firman Allah :

( سيجعل لهم الرحمن ودا )

” Ar Rahman akan menjadikan bagi mereka kecintaan”(QS: Maryam 96)

Beliau berkata” Allah mencintai mereka dan menjadikan mereka dicintai”

(٤١) حدثنا عبد الله، نا عبيد الله بن عمر، نا يزيد بن زريع، نا حميد، عن أنس، قال: مر النبي صلى الله عليه وسلم في نفر من أصحابه فإذا صبي على ظهر الطريق، فخشيت أمه أن يوطأ الصبي، فسمعت تقول: ابني ابني، وسعت فحملته، فقال القوم: يا رسول الله، ما كانت لتلقي ابنها في النار، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: «والله لا يلقي حبيبه في النار»
أخرجه أحمد (١٣٤٦٧) وسنده صحيح وله شاهد في الصحيحين عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه: قدم على النبي صلى الله عليه وسلم سبي، فإذا امرأة من السبي قد تحلب ثديها تسقي، إذا وجدت صبيا في السبي أخذته، فألصقته ببطنها وأرضعته، فقال لنا النبي صلى الله عليه وسلم: «أترون هذه طارحة ولدها في النار» قلنا: لا، وهي تقدر على أن لا تطرحه، فقال: «لله أرحم بعباده من هذه بولدها»

41. menceritakan kepada kami Abdullah mengabarkan kami Ubaidullah mengabarkan kami Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami Humaid dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata ” Nabi shallallahu alaihi wa sallam melewati sekelompok para sahabat, ternyata ada seorang anak kecil di jalanan. Ibunya kawatir anaknya terinjak,

Anas berkata: aku mendengarnya berteriak mengatakan “putraku… putraku…” iapun berlari dan menggendongnya. Maka para sahabat berkata: “yaa Rasulallah! wanita ini tidak mungkin akan melemparkan putranya kedalam api” Nabi bersabda ” dan Allah tidak akan mungkin mencampakkan kekasihnya ke dalam neraka” (HR. Ahmad 13467)

Dan hadits tersebut diperkuat dengan hadits dalam shahihain (Al Bukhary dan Muslim) dari Umar bin Khaththab radiyallahu ‘anhu beliau berkata: tawanan perang dihadapkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, ternyata seorang wanita dari tawanan tersebut mengeluarkan/mempersiapkan payudaranya, begitu ia mendapat seorang anak kecil dari para tawanan ia langsung ambil dan melekatkannya pada perutnya lalu iapun menyusuinya.
Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada kami:
“Apakah kalian mengira bahwa wanita ini akan melemparkan putranya kedalam api?!”
Kami jawab: ” Tidak”, selama ia masih sanggup untuk tidak melemparkannya”
Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh Allah lebih sayang terhadap hamba hambanya dibandingkan kasih sayang wanita ini terhadap anaknya”

Alhamdulillah

Di tulis oleh: Abu Muhammad Abdul Hamid Al Hajuriy 17 Dzul-Qa’dah 1435

Alih bahasa : Abu ‘Ubaid Fadhli Sorowako As-Sulawesiy dan Abu Ibrohim Al-Kalimantaniy

Naskah Asli

:الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله اما بعد
قال ابن ابي الدنيا (٣١ )- حدثنا عبد الله، نا خلف بن هشام، نا أبو عوانة، قال: «رأيت محمد بن سيرين يمر في السوق وكبر الناس» ، قال خلف: «كان محمد بن سيرين قد أعطي هديا وسمتا، وخشوعا، فكان إذا رأوه ذكروا الله»
(٣٢)- حدثنا عبد الله، نا سريج بن يونس، نا علي بن هاشم، ووكيع، عن ابن أبي ليلى، عن الحكم، عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس: ” {سيجعل لهم الرحمن ودا} [مريم: ٩٦] قال: يحبهم ويحببهم “
(٤١) حدثنا عبد الله، نا عبيد الله بن عمر، نا يزيد بن زريع، نا حميد، عن أنس، قال: مر النبي صلى الله عليه وسلم في نفر من أصحابه فإذا صبي على ظهر الطريق، فخشيت أمه أن يوطأ الصبي، فسمعت تقول: ابني ابني، وسعت فحملته، فقال القوم: يا رسول الله، ما كانت لتلقي ابنها في النار، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: «والله لا يلقي حبيبه في النار»
أخرجه أحمد (١٣٤٦٧) وسنده صحيح وله شاهد في الصحيحين عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه: قدم على النبي صلى الله عليه وسلم سبي، فإذا امرأة من السبي قد تحلب ثديها تسقي، إذا وجدت صبيا في السبي أخذته، فألصقته ببطنها وأرضعته، فقال لنا النبي صلى الله عليه وسلم: «أترون هذه طارحة ولدها في النار» قلنا: لا، وهي تقدر على أن لا تطرحه، فقال: «لله أرحم بعباده من هذه بولدها»
والحمد لله
أبو محمد عبدالحميد الحجوري ١٧ القعدة .١٤٣٥